Working Trip Singkat Davao – Manila

Triphology (travel blogger) – Apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar kata Filipina Selatan ? daerah konflik ? perang ? narkoba ?, sebenarnya gak seseram itu. Davao merupakan kota terbesar dan Ibukota utama di pulau Mindanao, Filipina Selatan. Kira – kira apa sih yang bisa di lakukan disana ? yuk.. ikuti perjalanan kali ini ke Kota Davao dan Manila, Filipina.

Keberuntungan dan Tragedi

I’m Lucky.. sangat beruntung, karena tiba-tiba ada penugasan dari kantor untuk ke Davao. Perjalanan kali ini penuh liku – liku (ini agak berlebihan sebenarnya). Sesuai jadwal, seharusnya berangkat dari Jogja Ke Jakarta pagi hari, naik Philipines Airlines dari Jakarta ke Manila dan dilanjutkan naik Cebu Airlines dari Manila ke Davao. Tapi karena insiden tergelincirnya pesawat Garuda Indonesia di Adi Sucipto mengharuskan semua penerbangan dari dan ke bandara Adi Sucipto di tutup. Alhasil seluruh penumpang dialihkan menuju bandara Adi Sumarmo di kota Solo.

Setelah lama menunggu akhirnya baru dapat terbang ke Jakarta Jam 7 Malam dan itu berarti ketinggalan pesawat ke Filipina. Pihak Garuda bersedia mengganti biaya penerbangan ke Filipina dan memberi kebebasan untuk memilih maskapai dengan jadwal terdekat. Taraaaa… akhirnya dapat tiket Jakarta – Davao buat besok pagi dengan menggunakan Singapore Airlines transit Singapore. Penerbangan lanjutan pakai Silk Air dari Singapore ke Davao. 

First Impression naik Singapore Airlines,,, kerennn… Airbus A330, dan itu gede banget.. (ups jadi lebay).

Davao

Finally, tiba juga di Davao setelah menempuh perjalanan hampir 7 Jam (karena muter), 2 Jam ke Singapore dan 5 Jam ke Davao.  Sudah buat janji sama rekan kerja yang juga mendarat di Davao di hari yang sama, cuma Dia berangkat dari Manila. Apa sih yang menarik di Davao ?? kalau dilihat sekilas tata kota di Davao sebenarnya sama saja seperti kota – kota di negara berkembang pada umumnya dan salah satu yang unik yang pertama kita lihat adalah Jeepney. Kendaraan angkutan kota khas di Filipina. Jeepney atau orang lokal menyebutnya dengan dyip atau dyipni adalah kendaraan umum berbentuk seperti mobil jeep dengan badan mobil yang memanjang ke belakang.

Source : google (gak sempet jepret jeepney)

Dari Bandara Fransisco Bangoy Davao menuju hotel Domicilio Lorenzo Apartelle ditempuh dengan menggunakan taksi.  Situs booking.com mendata hotel ini sebagai hotel bintang 3 dengan open tarif sekitar 300 ribuan. Dan sekali lagi taraaaa….. ternyata ini lebih mirip seperti homestay atau losmen di Indonesia. Sebuah rumah besar dengan halaman luas dan kolam renang didalamnya. Overall, masih cozy dan nyaman dengan lingkungan yang tidak terlalu ramai.

Domicilio Lorenzo Apartelle

City Hall of Davao

Tempat pertama kali dikunjungi adalah City Hall of Davao atau balai kota Davao yang merupakan kantor walikota Davao. Dulu presiden Duterte (Presiden Filipina) pernah berkantor disini saat masih menjabat sebagai walikota Davao dan saat ini dilanjutkan oleh putrinya sebagai walikota Davao. City Hall of Davao merupakan bangunan tua yang dibangun pada tahun 1926 dengan design bergaya eropa art deco. Tidak mengherankan mengingat Filipina cukup lama dijajah oleh Spanyol bahkan lebih lama dari Belanda menjajah Nusantara.

 

Di depan balai kota ada sebuah taman yang asri dan ada berbagai penjual makanan (mirip seperti kaki lima di Indonesia). Di tempat yang sama juga berdiri patung Jose Rizal (Pahlawan Filipina) bapak bangsa Filipina, mirip kayak Soekarno di Indonesia. Jadi baik di Davao maupun di Manila akan ditemukan banyak sekali bangunan, jalan dan sebagainya yang di dedikasikan untuk Jose Rizal. City Hall of Davao sendiri sedang dalam tahap renovasi saat Saya ke sana.

 

 

Sangguniang Palungsod Ng Dabaw

Dari Davao City Hall lanjut jalan kaki ke Sangguniang Palungsod Ng Dabaw atau Gedung DPRD – nya Davao, tempat anggota dewan yang terhormat :). Tidak jauh dari Gedung Legislatif ada Gereja yang sangat besar namanya San Pedro Cathedral, sayangnya ketika tiba di gereja ini handphone sudah mati sehingga gak sempat mengabadikan.

Gedung DPRD Davao

 

San Pedro Cathedral

Bagi seorang muslim akan sulit sekali mencari makanan Halal di Davao. Sebenarnya populasi muslim di Davao lebih banyak dibandingkan kota – kota lainnya di Filipina tapi tetap saja urusan mencari makanan halal jadi pekerjaan rumah tersendiri. Berbekal informasi yang sudah dikumpulkan sebelumnya, hunting makananpun dimulai dan berakhirlah disebuah kedai yang menjual makanan khas melayu-arab. Sebenarnya bawa bekal dari Indonesia, serantang rendang buatan ibunda tercinta untuk jaga – jaga kalau cari makan susah, tapi tertinggal di kamar hotel.

People’s Park

Perjalanan dilanjutkan menuju People’s Park, sebuah taman publik dengan luas mencapai 4 hektar. Di People’s Park terdapat lebih dari 1000 jenis pohon dan tanaman dari berbagai belahan dunia. Ada arena bermain untuk anak, patung-patung dan hasil seni rupa hingga pertunjukan air mancur menari atau dancing fountain di jam – jam tertentu. Yang khas dari People’s Park adalah bangunan utama berbentuk Dome yang atapnya menyerupai Durian alias King Fruit. Iya benar sekali DURIAN…. Davao terkenal dengan Durian. Buat pencinta durian harus mencoba lezatnya durian Davao. Selain buah durian utuh, pengunjung bisa berbelanja aneka panganan dari bahan dasar durian sebagai buah tangan pulang ke Indonesia, tapi hati – hati di bandara yaa… 🙂 kalau terlalu banyak, salah – salah malah disita karena baunya yang menyengat.

People’s Park

 

People’s Park Dome.

Manila

Agenda kerja di Davao sudah selesai, saatnya kembali ke Indonesia. Gak ada penerbangan langsung dari Davao ke Jakarta, jadi harus transit dulu di Manila. Ada waktu sekitar 6 jam sebelum penerbangan lanjutan Manila – Jakarta. Gap waktu yang tersedia lumayan bisa dipakai buat short trip di Manila. Tiba di Manila sudah  siang. Karena sudah sangat lapar dan gak sempat sarapan, target pertama setelah keluar dari Bandara adalah cari makanan halal. Berbekal panduan dari google, dapat informasi tempat makan halal terdekat ada di salah satu mall terbesar di Manila, SM Mall of Asia.  Setelah mencari cukup lama, akhirnya ketemu Restoran Indonesia, yang dimiliki oleh orang Manado campuran Malaysia dan Inshaa Allah halal, rasa makannyaa.. yaa tentu saja jangan berharap banyak akan sama dengan rasa di Indonesia 🙂

Depan SM Mall of Asia

Rizal Memorial Park

Dengan menggunakan taksi dari SM Asia Mall langsung meluncur ke Rizal Memorial Park. Area taman luas yang terdapat sebuah monumen/tugu didalamnya untuk mengenang pahlawan bangsa Filipina Jose Rizal yang dieksekusi oleh penjajah Spanyol di lokasi tesebut. Selain monumen, Rizal Park juga memiliki pusat olah raga, stadium dan convention hall. Di hari libur atau akhir pekan kawasan ini menjadi pusat berkumpulnya keluarga di Manila untuk berolahraga atau sekedar piknik keluarga.

Monumen Jose Rizal

Monumen Jose Rizal  dikawal oleh 4 orang tentara Filipina (mirip paspampres di Indonesia) yang berjaga di setiap sudut monumen secara bergantian, pengunjung dilarang untuk mendekat dan hanya bisa melihat dari kejauhan. Di salah satu sudut taman terdapat diorama Patung perjalanan hidup Jose Rizal hingga proses eksekusi matinya, untuk bisa melihat diorama ini pengunjung harus membeli tiket masuk.

Diorama Jose Rizal

Muslim di Manila

PR yang lain ketika berkunjung ke Manila adalah cari tempat buat sholat. Sangat sulit mencari masjid atau mushola di Manila. Mengingat waktu dzuhur sudah masuk Kami pun mencari tempat untuk wudhu dan shalat di sekitaran Rizal Park. Gak adanya toilet yang cukup bersih, mau gak mau menggunakan air mineral buat berwudhu, selesai berwudhu gak sengaja lihat beberapa orang laki – laki yang menggelar alas dan mau sholat berjamaah, langsung aja mohon izin buat ikut bergabung.  Selesai shalat, sempat ngobrol-ngobrol sebentar dan ternyata mereka adalah muslim dari Filipina selatan yang pergi ke Manila setiap 2 minggu sekali untuk berdakwa kepada orang – orang di lapangan Rizal Park. Mereka membagikan gratis buku – buku tentang Islam, banyak yang cuek tapi tidak sedikit pula yang tertarik dan bertanya – tanya tentang Islam. Pemandangan yang tidak biasa buat Kita yang hidup di negara mayoritas Muslim.

 

Dibawah Bendera Besar Filipina

 

Selesai shalat dzuhur segera beranjak pergi ke Bandara untuk kembali ke Jakarta. Meski sangat singkat, perjalanan ke Filipina ini meninggalkan banyak kesan yang luar biasa, gak mudah untuk menjadi minoritas di satu lingkungan yang benar – benar asing dan fakta bahwa dunia ini ternyata sangat luas, membuka pikiran dan semangat untuk dapat menjelajah lebih jauh lagi.

 

Ciao..

Leave a reply