Trip Eropa (Part 4) Napoleon dan Arc de Triomphe

Triphology (travel blogger) – Napoleon begitu bahagia setelah memenangkan pertempuran di Austerlitz pada tahun 1806. Atas kemenangan itu Napoleon meminta sang arsitek Jean Calgrin untuk membuat sebuah monument di bukit Chaillot ditengah – tengah konfigurasi jalan yang berbentuk bintang lima di kota Paris. Arc de Triomphe atau ” Gapura kemenangan ” dibangun untuk menghormati jasa tentara-tentara kebesarannya. Pengerjaan monumen ini berlangsung selama kurang lebih 2 tahun. ketika Napoleon memasuki kota Paris dari barat bersama Archduchess Marie-Louise dari Austria pada tahun 1810, Ia sudah bisa melihat monumen ini terbentuk dari konstruksi kayunya. Bagi rakyat Perancis Napoleon adalah pahlawan besar. Memerintah selama kurun waktu tahun 1804 hingga 1814,  Napoleon telah membawa  Perancis nyaris menguasai hampir seluruh Eropa.

Napoleon Bonaparte

Last Day In Paris

Today is the last day in Paris. Jadwal check out hotel di Eropa rata – rata jam 10 pagi, beda dengan . Indonesia yang umumnya jam 2 siang. Dari semalam sudah mem-packing ulang ransel dan hanya menyisakan pakaian yang mau dipakai hari ini. Selesai masak, sarapan dan menyiapkan bekal untuk makan siang, lanjut check out dari hotel. Bus ke munich baru berangkat jam 11 malam nanti. Rencananya ransel mau dititipkan di coin locker yang ada di stasiun Gare Du Nord. Dari hotel naik bus nomor 177  ke Place Voltaire kemudian sambung lagi naik bus 54 ke Gare Du Nord.

Gare du Nord

Gare du Nord adalah salah satu stasiun kereta terbesar di Paris dan merupakan stasiun international untuk kereta – kereta yang berangkat ke luar dari negara Paris. Meski bangunannya luas dan besar, bukan hal yang sulit bagi turis untuk menemukan coin locker. Lokasinya berada di basement tidak jauh dari escalator dekat dengan platform 3 atau 4. Tidak perlu khawatir tersesat karena banyak papan petunjuk arah yang cukup informatif. Biaya penitipan barang di coin locker selama 24 jam untuk loker ukuran besar ditebus dengan harga 9.5 euro (cukup mahal).

Arc de Triomphe

Dari Gare Du Nord langsung menuju ke Arc de Triomphe. Monumen ini berada di ujung jalan Champs-Elysees di area Place de I’Etoile. Perjalanan ke lokasi ditempuh kurang lebih 15 menit dengan menaiki kereta metro subway jalur M2 dan turun di Charles de Gaulle – Etoile. Keluar dari tangga subway langsung dihadapkan pemandangan Arc de Triomphe berdiri megah dengan begitu banyak kerumunan wisatawan. Di sekitar lokasi juga terdapat pemberhentian untuk bus tur atap terbuka atau hop on and hop off tour.

Arc de Triomphe

 

Arc de Triomphe

Monumen Perang Dunia 1

Untuk berada tepat dibawah Arc de Triomphe pengunjung harus menyebrang jalan melalui terowongan bawah tanah dan keluar langsung di sisi kanan atau kiri bangunan.  Dibawah monumen terdapat makam prajurit tak dikenal yang dibatasi oleh rantai sebagai representatif untuk mengenang para korban perang dunia 1 pada 28 Januari 1921. Di makam terdapat banyak rangkaian bunga dan di ujungnya terdapat api abadi yang menyala dengan pengawal tentara bersenjata disisinya.

Monumen dibawah arch de triomphe

Untuk naik ke atas Arch de Triomphe pengunjung dikenakan biaya sebesar 12 euro.  Saya ? hmm yaa gak naiklah.. uangnya di irit buat makan dan oleh-oleh hehehe. Dari Arc de Triomphe menikmati sejenak jalan di Champs-Elysees yang merupakan tempat pertokoan high class dengan harganya yang selangit. Mungkin budget biaya Saya ke eropa cuma bisa di tuker satu dompet koin buatan Prada atau Dolce Gabbana.

 

Patung Charles De Gaulle

Di Indonesia juga ada yang mirip dengan bangunan Arc de Triomphe, namanya SLG (Simpang Lima Gumul) yang ada di kota Kediri. So kenapa cowok harus kerja keras ? karena cewek tau mana Arc de Triomphe mana Simpang Lima Gumul. 🙂 hehehe.

Simpang Lima Gumul (Kiri) vs Arc de Triomphe (Kanan)

Sebenarnya rencana awal dari Arc de Triomphe mau ke Istana Versailles, tapi karena hari sudah cukup siang dan dapat info dari teman kalau kondisinya lagi rame banget akhirnya dibatalkan. Saya memilih untuk mengunjungi Cite des Sciences et de l’Industrie atau Museum Sains dan Industri. Museum ini secara konsep mirip seperti Miraikan Museum di Tokyo atau Museum Sains dan Teknologi di Indonesia yang ada di Taman Mini. Museum ini juga merupakan museum sains terbesar di eropa dan telah berdiri sejak tahun 1986.

Cite des Sciences et de l’Industrie

Transportasi ke Lokasi menggunakan kereta metro subway jalur M2 dari Charles de Gaulle turun di Stalingrad. Setelah itu sambung dengan metro jalur M7 turun di Porte de la Villette. Dari stasiun hanya membutuhkan waktu 5 menit jalan kaki menuju ke Museum. Tiba di lokasi saya memilih duduk dulu di taman depan museum sambil menyantap bekal makan siang yang sudah disiapkan dari pagi. yummy.

Museum Sains dan Industri

Cite des Sciences et de l’Industrie atau Kota Sains dan Industri merupakan museum sains terbesar di eropa. Dengan tiket masuk seharga 12 euro pengunjung sudah dapat menikmati keseluruhan museum dan pertunjukan theater planetarium (seperti di planetarium Jakarta). Museum terdiri atas 3 lantai yang terbagi menjadi sejumlah ruang pameran, mulai dari pameran peraga ilmu pengetahuan untuk anak-anak, teknologi pesawat dan antariksa, geologi hingga sejarah transportasi di Perancis.

Di setiap ruang pameran juga terdapat monitor – monitor informasi interaktif yang dapat dipergunakan oleh pengunjung untuk memperoleh penjelasan secara lengkap terkait topik atau hal – hal yang sedang di pamerkan. Pada jam – jam tertentu ada seminar atau peragaan teknologi – teknologi terbaru yang dilakukan oleh tim dari museum. Pada saat Saya tiba kebetulan sedang ada peragaan teknologi terkait teknologi luar angkasa dan teknologi kereta dimana kereta tidak menyentuh rel atau melayang. Berbicara masalah perkereta-apian, bangsa Perancis sudah menerapkan sistem transportasi massal kereta api sejak tahun 1826 dan terus berkembang hingga saat ini, di tahun itu Indonesia sedang apa yaa.. ?

Maket di dalam Museum

 

Museum Sains dan Industri

Planetarium

Setelah melihat isi pameran, Saya bergegas ke lantai 3 untuk mengikuti pertunjukkan planetarium sesuai dengan jadwal yang dipilih pada saat membeli tiket di counter. Tidak berapa lama para pengunjung sudah mulai antri untuk masuk dan dapat posisi kursi paling bagus. Keluarga dengan anak dan difabel mendapat prioritas lebih dahulu untuk masuk setelah itu baru pengunjung umum. Tampilan dalam ruang theater tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta, tapi dari sisi mekanisme pertunjukkan lebih terkelola dengan baik. Satu hal yang disayangkan adalah meski di tiket tertera pertunjukkan dalam bahasa inggris tapi hampir seluruh pertunjukkan di sajikan dengan bahasa perancis, alhasil jadi roaming deh.

Karena di dalam gelap, tidak sempat foto, ambil di google yaa..

Selesai dari museum sains, coba cari masjid atau mushola terdekat untuk shalat tapi ternyata tidak ada. Yang paling dekat adalah Grand Mosque Paris, akhirnya Saya kembali ke sana dengan menaiki metro subway. Selesai shalat langsung menuju ke Gare du Nord untuk mengambil ransel dan berangkat menuju  Gare Routiere Internationale Paris Gallieni atau terminal bus internasional Paris.

Menunggu loket check in bus buka di Gallieni

Tiba di Gallieni masih jam 7 malam sedangkan bus yang membawa Saya ke Paris baru tersedia jam 10 malam dengan waktu chek in tiket jam 9 Malam. Saya pun harus menunggu selama 3 jam di terminal. Untuk terminal gallieni sendiri jauh dari kata nyaman, yaa sama seperti terminal – terminal di Indonesia malah mungkin lebih bagus di Indonesia.

So,,, addios Paris….. see you next time.

Munich, I’m Coming.

 

Paris, 28 April 2018

Leave a reply