Trip Eropa (Part 3) Senyum Monalisa

Triphology (Travel Blogger) – Siapa yang tidak tahu lukisan Monalisa ? hampir semua orang tahu atau paling tidak pernah dengar tentang Monalisa. Lukisan karya Leonardo Da Vinci ini memang fenomenal dan punya pesona tersendiri. Ribuan orang dari seluruh dunia datang ke Paris setiap tahun, salah satunya hanya karena ingin melihat lukisan ini.  Banyak yang bilang senyum Monalisa adalah senyum paling manis di dunia. Masa sih ?

Ada yang tahu tidak Monalisa itu laki-laki atau perempuan ? Banyak ahli lukisan dari seluruh dunia berdebat panjang cuma buat cari tahu Monalisa ini laki-laki atau perempuan. Tidak sedikit yang percaya kalau ada pesan tersembunyi di dalam lukisan Monalisa yang ditinggalkan oleh sang pelukis. Namun terlepas dari apapun misteri yang menyelimutinya, semua orang pasti sepakat kalau Monalisa adalah sebuah  lukisan masterpiece yang luar biasa dari seorang Leonardo Da Vinci. Seorang jenius hebat yang pernah ada di muka bumi.

Monalisa

Transportasi Menuju Eiffel Tower

Sepulang dari Seine kemarin badan sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi, benar – benar capek. Sampai hotel langsung terlelap dan baru sadar keesokan harinya. Saat bangun pagi, Alhamdulillah sudah jauh lebih baik meski punggung masih terasa sakit dan betis masih terasa kencang, tapi gapapa. Sesuai rencana awal, hari ini mau ketemu beberapa teman dari Indonesia di Eiffel jam 10 pagi.

Dari pagi sudah sibuk mempersiapkan peralatan, gadget dan perbekalan untuk makan siang. Setelah semua siap, langsung berangkat ke stasiun dengan harapan bisa tiba di Eiffel lebih awal dan menghindari antrian panjang. Dari Les Gresillon naik kereta RER C tujuan akhir Massy-Palaiseau, turun di Stasiun Champ de Mars dan jalan kaki sekitar 750 m menuju pintu masuk ke area menara Eiffel. Sesuai dugaan, antrian pengunjung sudah mulai mengular. Panjangnya antrian disebabkan ketatnya proses pemeriksaan oleh pihak keamanan. Ada benda – benda tertentu yang dilarang untuk dibawa masuk, seperti ; bendera ukuran 200 x 150 m, senjata api dan sebagainya. Kurang lebih ada 12 item yang dilarang untuk dibawa oleh pengunjung ke dalam area menara Eiffel.

Kereta RER C

Antrian Eiffel Tower

Meski antrian cukup panjang, tidak butuh waktu lama untuk sampai  di proses melewati metal detector dan pemeriksaan barang bawaan. Seluruh tas yang dibawa harus dibongkar dan dikeluarkan isinya (termasuk bekal makan siang yang Saya bawa). Jika bawa air minum dalam botol maka harus diminum  depan petugas untuk memastikan bahwa itu benar – benar air minum bukan zat kimia yang dapat merusak Eiffel. Setelah mereka yakin tidak ada yang mencurigakan, mereka pun memberi izin untuk masuk.

Gambar dari Pintu Masuk Eiffel

Sebenarnya kalau cuma sekedar menikmati area sekitar Eiffel, tidak akan dikenakan biaya apapun alias gratis. Tapi jika ingin naik ke atas menara maka harus membeli tiket yang tersedia di loket yang berada tepat di bagian kaki – kaki menara Eiffel dengan harga mulai dari 10 – 25 euro tergantung seberapa tinggi Kita naik. Buat Saya, sudah cukup puas menikmati eiffel dari bawah karena kalau dari atas bukan menikmati eiffel tapi menikmati kota paris dari atas. (ngeles aja… padahal lagi ngirit).

Under the Eiffel Tower

First impression melihat Eiffel adalah besi tua, besar, kokoh dan indah. Sayangnya waktu kesana beberapa bagian taman sedang dalam tahap renovasi dan agak sedikit mengurangi keindahan.  Mungkin karena sedang dipersiapkan untuk liburan musim panas yang merupakan puncaknya arus wisatawan ke Eiffel. Menurut sejarahnya menara ini awalnya akan dibangun di Barcelona, tapi walikota Barcelona menolak karena dianggap tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian kotanya dan akhirnya dibangunlah di Paris. Eiffel Tower merupakan monumen berbayar yang paling sering dikunjungi di dunia. Semenjak dibangun sampai saat ini Eiffel telah dikunjungi lebih dari 200 juta wisatawan termasuk 6,7 juta wisatawan yang tercatat pada tahun 2015 lalu. Menara yang awalnya dikritik habis-habisan karena dianggap mengganggu pemandangan justru menjadi icon dari negara Perancis.

Under Tower

 

Eiffel Tower

Museum of The Natural History

Semakin lama angin semakin kencang dan udara terasa jauh lebih dingin. Terkadang hembusan nafas mengeluarkan asap mengepul dari mulut. Saya pun enggan berlama – lama dan langsung berangkat ke destinasi selanjutnya, Museum of The Natural History yang berada di area kebun binatang Paris. Dari stasiun Champ de Mars kembali naik kereta jalur RER C arah Gare de Pont Rungis dan turun di stasiun Gare d’Austerlitz kemudian berjalan kaki sekitar 12 menit.

Museum of The Natural History

Ketika tiba di Museum satu hal yang baru disadari adalah bahwa letak museum ini tidak jauh dari Grand Mosque of Paris yang dikunjungi kemarin. Awalnya mau masuk ke dalam museum tapi khawatir sudah terlalu siang, jadi dibatalkan. Selain itu teman yang janjian ketemu di Eiffle juga baru kasih kabar kalau ada perubahan lokasi ketemu, di Museum Louvre.

Burger di Le Jardin

Setelah istirahat sejenak di taman halaman depan museum, Saya putuskan untuk mampir dulu ke Grand Mosque untuk shalat. Di perjalanan mampir ke Mcdonalds untuk beli kentang goreng dan minuman. Ternyata beli kentang goreng disini gak dapat saus sambal tapi mayonaise, untungnya bawa saus sambal sachet dari rumah setidaknya  masih ada rasa Indonesia. Di perjalanan menuju masjid ketemu warung halal karena penasaran mampir lagi buat makan. Burger dan kentang menanti di piring. Setelah shalat langsung menuju Louvre dari stasiun Censier – Daubenton naik jalur M dan turun di Palais Royal Musee du Lovre kemudian dilanjutkan jalan kaki kurang lebih 5 menit.

Museum Louvre

Pemandangan pertama yang terlihat saat masuk ke areal Louvre tentu saja adalah piramida kaca yang sangat iconic. Begitu iconic sampai – sampai ada meme dengan kalimat “kenapa cowok harus kerja keras, karena cewek tau mana Paris mana Bekasi” (perbandingan gambar piramida louvre dan piramida terbalik di summarecon bekasi). hehehe.. ada – ada saja.

Piramida Louvre berdiri kokoh, modern, dan stylish. Sangat kontras dengan bangunan sekitarnya yang klasik dan monumental. Sebuah perpaduan yang benar – benar dipikirkan dengan baik. Siang ini Louvre sangat ramai, entah memang setiap hari seperti ini atau kebetulan saja memang sedang ramai. Mengelilingi areal lapangan Louvre dan mengabadikan setiap sudut yang ada menjadi hal yang sayang untuk dilewatkan. Begitu banyak spot foto yang menarik untuk di ambil termasuk tingkah polah wisatawan yang terkadang buat Kita tersenyum. Setelah berkeliling, Saya mulai ikut masuk ke dalam antrian menuju museum melalui pintu yang berada di piramida kaca. Standar pengamanan dilakukan sama persis seperti ketika memasuki area menara eiffel. Ada metal detector dan petugas yang akan memeriksa seluruh barang bawaan pengunjung.

Musee de Louvre

Setelah melewati pos pemeriksaan, ada 2 eskalator yang menuju ke area basement yang merupakan lobby dari Museum Louvre. Di area lobby ada bagian informasi, cafe, loket tiket dan pintu – pintu masuk ke dalam museum. Ada lebih dari satu pintu masuk, tergantung kita mau ke museum yang mana terlebih dahulu. Saya membeli tiket seharga 15 euro dan segera masuk ke area museum lukisan, target awal apalagi kalau bukan Monalisa Smile.

Monalisa

Tidak sulit untuk mencari lukisan Monalisa karena hampir disetiap sudut jalan dan lorong ada petunjuk yang mengarahkan pengunjung untuk sampai ke lokasi. Setelah berjalan beberapa lama dan melewati berbagai lukisan karya pelukis Italia dan Perancis, tibalah di satu ruangan yang dipenuhi oleh begitu banyak pengunjung. Semua orang berkumpul pada satu dinding, tempat di mana Monalisa bersembunyi. Ada pembatas tali dengan jarak kurang lebih 3 meter dari lukisan. Semua pengunjung berusaha mengabadikan, entah hanya mengambil gambar Monalisa atau selfie dengan latar balakang Monalisa. Saya pun tidak melewatkan moment untuk ikut mengambil beberapa gambar dan video situasi di ruangan ini.

Monalisa Hall

Terlepas dari keindahan Monalisa, hampir semua lukisan di Louvre adalah lukisan yang dibuat dengan teknik lukis tingkat tinggi. Sangat hidup dengan perpaduan warna dan detil yang benar – benar sempurna. Ini menjadi sangat luar biasa mengingat semua lukisan ini dibuat pada rentang abad 15 – 19 dimana teknologi belum semaju saat ini. Dan bagaimana cara Louvre merestorasi, merawat dan menyajikan seluruh maha karya ini adalah hal lain yang membuat museum ini menjadi salah satu museum terbaik di dunia. Well done.

Lukisan di Louvre

Sculpture & Islamic History

Keluar dari hiruk pikuk Monalisa perjalanan berlanjut masuk ke area scuplture (patung). Ada satu kesamaan dari hampir seluruh patung manusia yang ada di Louvre, semuanya telanjang alias naked. Baik itu patung laki-laki, perempuan, dewasa atau patung anak-anak. Ada beberapa yang berbusana tapi tetap saja menonjolkan kesan feminis dan naturalis atau setengah berbusana. Perempuan abad pertengahan tidak digambarkan langsing semampai sebagaimana definisi perempuan cantik saat ini. Patung perempuan digambarkan bertubuh sekel dan sedikit gemuk, mungkin ini persepsi cantik pada masa itu. Sekedar informasi, persepsi bahwa cantik harus langsing dan kurus itu baru ada sejak tahun 1950 an.

Alexander the Great at Louvre

 

Sculpture at Louvre

Louvre juga memiliki bagian ruangan yang menampilkan sejarah dan artefak Islam dari berbagai belahan dunia, terutama timur tengah dan eropa. Peninggalan berupa piring, porcelain, perhiasan, marmer lantai, tekstil, pedang sampai jubah perang ditampilkan dengan tata letak yang menarik. Di salah satu sudut terdapat monitor dengan layar interaktif untuk membantu pengunjung memperoleh informasi yang dibutuhkan tentang sejarah Islam.

Peninggalan Islam

Peninggalan Islam

Eiffel @Night

Puas berkeliling, langsung keluar dari Louvre karena teman yang juga dari Indonesia sudah menunggu di pintu keluar. Karena mereka baru hari ini tiba di Paris dan kebetulan kita hanya satu hari saja ketemu jadi agenda selanjutnya menemani mereka berkeliling Paris. Dari Louvre Kita menuju ke Sungai Seine, Notredame dan berakhir di Eiffel pada malam hari. Hari ini dapat 2 pemandangan Eiffel, pemandangan pagi hari dan malam hari yang menawan. Sekedar informasi lagi, ada undang-undang yang melarang siapapun untuk mengambil foto Eiffel di malam hari. Bisa kena royalti. Gimana controlnya ?? kalau orang foto dari beranda hotel atau beranda rumahnya ? hmm mungkin kalau foto dalam rangka komersil kali yaa.

Eiffel @Night

Selesai dari Eiffel kembali ke hotel menyimpan kembali tenaga dan merefresh memory hari ini. Malam ini malam terakhir di Paris dan besok adalah hari terakhir menjelajahi Paris. Masih ada beberapa tempat yang harus disinggahi sebelum malamnya naik bus ke Munich.

 

Paris, 27 Mei 2018

Leave a reply