Trip Eropa (Part 2) Paris The Heart of Europe

Triphology (travel blogger) – Paris identik dengan romantisme, cinta, kuliner dan tentu saja Eiffel. Ribuan orang diseluruh dunia bermimpi untuk dapat berkunjung ke ibu kota negara Napoleon ini. Menghabiskan sore di taman champ de mars sambil menatap menara besi karya Alexandre Gustave Eiffel, berjalan di tepian sungai Seine atau berkesempatan untuk dapat kuliah di Sorbone Universit ?. Tempat dimana puluhan jenius dunia lahir. Mungkin Saya adalah satu diantara ribuan orang yang punya mimpi tinggal di Paris atau bersekolah di Paris.

Sebenarnya ga ada rencana untuk berangkat ke Eropa tahun ini. Sudah kebayang mahalnya budget dan prosesnya yang tentu saja gakkan mudah. Tapi karena satu lain hal akhirnya nekad berangkat juga.

BIENVENUE PARIS……!!

Kamis, 25 April 2018. Mentari pagi di Bandara Roissy Charles de Gaulle menyambut Saya di kota Paris. Ada rasa bahagia, haru, campur aduk ketika turun dari pesawat. Wah.. Paris.. gw gak mimpi kan ? Norak ? Sudah pasti. Buat orang seperti Saya, Paris atau Eropa itu jauh dari angan, mahal dan ribet. Meski norak, coba tetap Jaim-lah, bawa nama bangsa dan negara di negeri orang, setidaknya jangan berbuat yang nggak-nggak biar gak malu-maluin. 

Roissy Charles De Gaulle

Dengan kondisi masih jet lag,  antrian bagasi dan petugas imigrasi Paris sudah menanti (hmm semoga gak ada masalah). Agak khawatir sebenarnya, karena saat di Imigrasi Soekarno Hatta sebelum berangkat Saya tertahan agak lama dan ditanya macam-macam oleh petugas imigrasi. Info dari petugas imigrasi nama Saya sama dengan orang yang sedang proses cekal atau buronan Interpol, entah. Saya tidak dengar cukup jelas yang disampaikan. Tapi akhirnya, petugasnya minta maaf karena salah orang dan stempel keluar Indonesia pun diberikan. 

Imigrasi Paris

Di Imigrasi Paris proses berjalan dengan lancar dan mulus, tidak ditanya macam-macam, langsung stempel. Selesai Imigrasi langsung ke bagian pengambilan bagasi. Tas Ransel 75 liter seberat 16 Kg pun sudah menanti untuk dipanggul. Saat lewat pemeriksaan bagasi, semua makanan aman dan tidak ada yang disita, mulai dari Indomie, Sambel, kering tempe balado, abon, kornet, Sardines kalengan dan kawan-kawannya semua sukses masuk Paris. 

Roissy Charles De Gaulle

 

Roissy Charles De Gaulle

Sesuai rencana, dari bandara Saya akan langsung ke Hotel untuk meletakkan ransel kemudian baru keliling Paris. Masalah mulai muncul, wifi yang dibawa dari Jakarta belum bisa Connect, sehingga buta informasi sistem transportasi di Paris. Berbekal wifi bandara coba menghubungi provider dan diberi saran untuk menggunakan perangkat modem setelah keluar dari area bandara. Setelah dapat info dengan menggunakan wifi bandara, Saya bergegas menuju ke lokasi pemberangkatan kereta api subway/metro (lokasinya sama dengan kereta TGV).

Modem Wi2Fly

Coba analisa situasi, lihat kanan – kiri antrian mesin tiket panjang dan mengular dimana-mana. Akhirnya coba bertanya pada bagian informasi dan diarahkan untuk membeli di ticket Office yang tersedia, tetap saja harus antri yang cukup panjang. Masih belum tau beli tiket apa dan berapa harganya, setelah lihat – lihat papan informasi coba menerka – nerka paket apa saja yang tersedia, kenapa menerka ? Semuanya pakai bahasa Perancis, jadi mau gak mau harus pakai feeling. 

Tranportasi di Paris

Untuk turis disediakan paket Paris Visit  1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari hingga 1 bulan. Harga masing-masing paket di atas berbeda tergantung coverage area kereta api yang akan dinaiki. Di Paris area transportasi dibagi menjadi 5 line/area. Area 1 – 3 adalah area hanya dalam kota paris saja sedangkan area 4-5 adalah area agak di luar kota paris. Jika ke Paris PP Alias datang dan kepulangan dari Paris disarankan untuk membeli paket 5 line sekaligus. Selain karena mencakup ke bandara, juga biar lebih leluasa termasuk bisa menjangkau hingga area Istana Versailles (lokasinya agak keluar dari kota Paris). 

Metro Map Paris

Tiket Paris Visit ini berlaku untuk Subway, Tram dan Bus yang ada di Paris, bukan kereta TGV ya.. kalau ini beli lagi :). Bila ingin lengkap bisa menggunakan Paris Pass, bisa dibeli di situs ini. Harga Paris Pass tentu saja lebih mahal, karena selain bisa digunakan untuk transportasi, Parispass juga bisa juga digunakan untuk masuk beberapa museum dan atraksi baik gratis maupun diskon.

Paris Visit Pass

Saya pilih Paris Visit untuk 3 hari paket line 1-5 yang saya  tebus seharga 57 euro. Selesai urusan tiket, berbekal peta jalur kereta yang diperoleh di ticket office Saya pun langsung menuju platform yang telah diarahkan. Tujuannya adalah Hotel Ibis Gennevilliers tempat menghabiskan 2 malam di Paris. Setelah berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain tibalah di stasiun Les Agnettes. Waktu sudah menunjukkan jam 11 siang lebih, tapi udara masih cukup dingin sekitar 8 – 12 derajat celcius. Info dari Google lokasi hotel seharusnya 500 m dari stasiun. Tidak berapa lama akhirnya tiba di hotel dan…. .

Tiket Paris Visit

Saya salah hotel 🙁 , mana ransel berat banget dan udah lama juga gak olah raga atau mungkin juga karena faktor U (usia), bikin nafas bener – bener Senin Kamis (buat yang mau back pack pastikan sudah olahraga rutin di rumah biar gak kaget). Dari resepsionis dapat informasi kalau Ibis yang Saya reservasi berada kurang lebih 1,2 km lagi dan seharusnya turun di Stasiun Les Gresillons, dari stasiun ini pun masih jalan 800 m ke Lokasi. Whatt ? Hmm ya sudah Saya putuskan jalan kaki Saja 1,2 Km daripada harus kembali ke stasiun naik kereta lagi dan jalan lagi 800 m. 

Stasiun Kereta Les Gresillons

IBIS Budget Gennevilliers

Setelah 30 menit jalan kaki akhirnya Saya tiba. Hotelnya cukup unik, resepsionisnya tidak buka 24 jam dan hanya periode jam tertentu saja. Pas Saya datang sudah tidak ada resepsionis, yang ada adalah mesin check in Hotel otomatis. Yang harus Saya lakukan adalah memasukkan kode Booking yang diterima dari booking.com setelah itu harga akan keluar dan akan diminta untuk melakukan pembayaran dengan memasukkan kartu kredit ke slot kartu yang ada di mesin. Setelah pembayaran selesai, akan keluar struk yang di dalamnya tertera nomor kamar dan kode 6 digit angka yang merupakan PIN akses untuk masuk ke dalam hotel dan ke dalam Kamar. Meski menginap 2 malam, Saya hanya bisa melakukan reservasi 1 malam saja, untuk malam yang kedua tetap harus reservasi via resepsionis pada keesokan paginya. 

Ibis Budget Gennevilliers

Setibanya di Kamar, mulai masak nasi dan makan dengan lauk balado tempe yang dibawa dari Jakarta, lalu mandi. Peralatan dan makanan ringan tak lupa dimasukkan ke dalam tas daypack. Modem Wifi yang dibawa dari Jakarta juga sudah bisa digunakan dan Saya pun berangkat memulai petualangan 15 hari di Eropa diawali dari Kota Paris. Tujuan pertama adalah ke sekitar Universitas Sorbone dan Notre Dame. Loh kok bukan ke Eiffel ? Ada keperluan harus urus tiket ke  Ticket Office Bus Eurolines buat keberangkatan ke Munich esok lusa Nanti. Tiketnya harus di reschedule karena ada perubahan Itinerary dan kebetulan office Eurolines ada di daerah Sorbone jadi sekalian saja rute pertama di paris adalah ke area sekitar Sorbone dan Notre Dame. Itinerary hari pertama sesuai jadwal adalah ke Notre Dame, Sorbone, Luxembourg Garden, Pantheon, Museum Of Natural History dan Grand Mosque Paris. 

Paris

Jalan Kaki di Paris

Dari Les Gresillons seharusnya naik kereta ( Jalur Rer C) arah Bibliotheque F Mitterand dan turun di St. Michel – Notredame. Tapi karena stasiun St. Michel sedang direnovasi, Saya pun turun di Gare d’Austerlitz. 1 stasiun setelah St. Michel dan berganti kereta jalur M untuk menuju ke stasiun Jussieu dilanjutkan jalan kaki sejauh 800 m. Jauh ? Lumayan, tapi buat yang lagi euforia lihat eropa, jalan kaki 800 m itu deket banget. Berjalan melewati Universitas Sorbone yang terkenal itu,, hmm dulu pernah mimpi kuliah disini tapi gak kesampaian. Tapi gapapa setidaknya udah pernah ke Sorbone walaupun cuma permisi lewat di depannya saja, banyak orang yang mungkin numpang permisi aja belum bisa, jadi syukuri aja walau cuma numpang lewat.

Sorbone University

Setelah urusan tiket selesai, jalan kaki masih jadi andalan untuk keliling disekitar wilayah ini. Jarak antara lokasi masih bisa ditempuh dengan jalan kaki 10 – 15 menit. Gak perlu khawatir, jalan kaki di paris akan berbeda rasanya dengan jalan kaki di jalanan Jakarta, meski begitu balsem atau pereda nyeri boleh disediakan untuk yang tidak terbiasa berjalan jauh.  

The Notre Dame

Tidak butuh waktu lama untuk tiba di destinasi pertama. The Notredame atau yang berarti “Bunda Kita di Paris”. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1163 M dan tahun demi tahun dilakukan perbaikan dan perluasan hingga menjadi saat ini. Gereja Notre Dame merupakan gereja katedral dengan arsitektur gothic dan merupakan salah satu contoh terbaik dari arsitektur gothic Perancis. Kesan pertama melihat Notre Dame adalah megah dengan ornamen dan ukiran di dinding yang sangat detil. Di depan Notre Dame terdapat lapangan yang cukup luas yang biasanya dipenuhi wisatawan dari berbagai negara. Untuk sekedar masuk ke Notre Dame tidak dipungut bayaran alias gratis kecuali jika ingin naik ke atas menara ada biaya tiket yang harus dibayarkan. Meski antrian cukup panjang, Kita tidak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat segera masuk ke dalam. Antrian berjalan dengan tertib dan petugas yang mengatur cukup baik dalam menjaga arus pengunjung yang keluar dan masuk.

 

The Hunchback Of Notre Dame

Kondisi di dalam gereja sama seperti gereja pada umumnya, tidak ada yang berbeda dari sisi fungsional karena memang Notre Dame masih difungsikan sebagai gereja dan masih dijadikan tempat misa oleh uskup agung Paris. Kesan megah sudah terasa sejak masuk. Hiasan dinding, sculpture dan ukiran terdapat di hampir seluruh titik gereja. Pengunjung dapat berkeliling disekitar sisi lingkar dalam gereja, sedangkan  bagian tengah di sterilisasi untuk pengunjung yang hendak berdoa dan beribadah.

Notre Dame

The Notre Dame sebuah gereja yang tidak hanya terkenal karena arstitekturnya yang khas namun juga karena menjadi bagian dari latar belakang cerita The Hunchback Of Notre Dame karya Victor Hugo yang pernah di buat film animasinya oleh Disney pada tahun 1996. Disekitaran Notre Dame terdapat beraneka macam cafe untuk sekedar menikmati kopi atau cemilan manis khas Paris. Tak ketinggalan toko – toko souvenir untuk membeli buah tangan juga banyak terdapat disini. Untuk souvenir ada opsi selain membeli di toko, yaitu membeli di pedagang kaki lima yang juga terdapat disepanjang jalan dan jembatan menuju Notre Dame. Untuk gantungan kunci Paris yang di toko souvenir bisa seharga 3 – 4 Euro perbuah, bisa diperoleh di pedagang kaki lima dengan harga 1 Euro perbuah.

Inside Notre Dame

Pantheon

Puas berkeliling dan mengabadikan suasana di Notre Dame Saya pun beranjak ke destinasi berikutnya The Pantheon. Dari Notre Dame ke Pantheon berjarak kurang lebih 1 km dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati Jalan Rue Vallete. Pantheon merupakan bangunan yang awalnya adalah sebuah gereja yang didedikasikan untuk St. Genevieve. Pada saat ini difungsikan sebagai Mausoleum atau sebuah monument/landmark untuk mengenang atau makam tokoh – tokoh tertentu. Diantara mereka yang dimakamkan di Pantheon adalah Voltaire, JJ Rosseau, Victor Hugo, Louis Braille dan Marie Curie yang baru dipindahkan ke Pantheon pada tahun 1995. Alexandre Dumas pengarang dari cerita The Three Muketeers turut dikebumikan di pantheon dan baru dipindahkan lewat prosesi negara pada tahun 2002 silam.

Pantheon

Cuaca di Paris masih cukup dingin meski matahari bersinar sangat terang. Di Pantheon Saya beristirahat sambil menikmati makanan ringan dan minuman yang sudah disiapkan sebelumnya. Berkali – kali memandang Pantheon terlihat benar – benar megah. Hmm.. ini cara bangsa Perancis menghargai setiap Pahlawannya. Meletakkan memori dan kenangan kepahwalawan pada tempat yang seharusnya sebagai bentuk terimakasih dan penghargaan yang luar biasa atas karya dan pengorbanan yang telah diberikan.

Pantheon

The Grand Mosque of Paris

Sekitar jam 4 sore Saya beranjak dari Pantheon menuju Masjid Raya Paris atau Grand Mosque of Paris untuk menunaikan Shalat. Karena waktu siang di musim semi jauh lebih panjang dari waktu malam, jadwal shalat pun jauh berbeda dengan di Jakarta. Shalat magrib baru dilakukan pada pukul 20.30 dengan kata lain matahari baru terbenam sekitar waktu tersebut. Untuk menuju ke Grand Mosque of Paris Saya berjalan kaki kurang lebih 1 km melewati Rue Lacepede. Lokasi masjid tepat dibelakang kebun binatang Paris. Masjidnya cukup besar dan menjadi sentra dakwah Islam di Paris. Masuk masjid dari sisi samping langsung dihadapkan dengan sebuah taman, setelah ke bagian tengah masjid baru nampak tempat area untuk Shalat. Selain untuk ibadah, Grand Mosque Paris juga dibuka untuk wisata. Jadi jangan heran bila banyak turis berlalu lalang di dalam Masjid, namun tentu saja dibatasi tidak sampai masuk ke areal tempat Shalat.

Grand Mosque of Paris

Fountaine du Palmier dan Sungai Seine

Karena sudah semakin sore dan sepertinya tidak akan terkejar untuk bisa menikmati Museum of Natural History, Saya pun memilih untuk mengeksplorasi beberapa tempat yang tidak masuk dalam agenda hari ini. Naik Metro Subway (Jalur M 7) turun di stasiun Chatelet – Les Halles Saya menyusuri Jardin Nelson Mandela melewati Fountain des Innocent hingga berakhir di Fountaine du Palmier yang berada dibelakang gedung Theatre du Chatelet dan tentu saja di depan Saya telah membentang Sungai Seine yang mempesona. Dari Pont Notre-Dame Kita dapat menikmati keindahan sungai Seine yang dibalut sinar senja. Di sisi tepian sungai ada pedestrian yang cukup lebar untuk sekedar berjalan menyusuri sungai, bersepeda, atau nongkrong di cafe – cafe tepi sungai. Bila belum cukup, Kita bisa mengikuti River Boat Tour dan tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk itu.

Fountain du Palmier

Seine River

Cukup letih untuk hari ini dan masih ada 15 hari tersisa. Memastikan kondisi tubuh tetap fit harus dilakukan, jika tidak semua akan menjadi sia-sia kalau jatuh sakit di perjalanan. Saya pun memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Lelah hari ini terbayar dengan kemegahan Notre Dame, Sorbone, Pantheon, Grand Mosque, Fontaine du Palmier dan kedamaian di tepi sungai Seine.. aaa..serasa tidak ingin beranjak pergi dari kota ini.

Paris, 26 April 2018

Leave a reply