Trip Eropa (Part 7) Romantisme Bohemian di Praha

Triphology (travel blogger) – “Larasati (Julie Estelle) terpaksa memenuhi wasiat ibunya, Sulastri (Widyawati), untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya (Tio Pakusadewo) di Praha”. Sebuah petikan sinopsis dari film karya Angga Dwimas Sasongko yang berjudul Surat dari Praha (2016). Sebuah film dengan latarbelakang keindahan kota praha dan Charles Bridge-nya.

 

 

Praha adalah sebuah kota nan cantik di Eropa tengah. Bila banyak orang mengatakan romantisme itu Paris, Praha adalah keindahan romantisme sesungguhnya. Cobalah untuk sekedar jalan kaki di Wenceslas hingga kota tua praha, duduk di old town square di waktu pagi yang tentram atau menikmati sungai Vltava sore hari dari jembatan Charles yang bernuansa bohemian. Praha adalah sebuah kota yang membawa orang seakan berada di negeri dongeng.

 

Perjalanan Ke Praha

Paris dan Munich  jelas memberi kesan yang mendalam dengan keunikan dan kelebihannya, hingga siapapun boleh memperdebatkan mana yang lebih indah. Paris dengan menara Eiffle dan taman – tamannya atau Munich dengan nuansanya yang begitu hidup. Tapi Praha, jelas memiliki sentuhan tersendiri yang akan sulit dilupakan.

Sesaat sebelum berangkat di ZOB Munich sempat bertemu beberapa orang Indonesia yang mau trip juga ke Ceko, 1 orang guide dan 3 orang wanita dari Jakarta. Guidenya orang Indonesia, tapi sudah lama tinggal di Belanda. Kebetulan Kami menaiki bus yang sama untuk ke Praha. Dengan menggunakan Flixbus rute Munich – Praha Pkl 23.55, perjalanan ke Ibukota Republik Ceko ditempuh kurang lebih hampir 6 Jam. Sengaja naik bus malam biar menghemat penginapan dan memaksimalkan waktu siang untuk menikmati Eropa. Tapi minusnya perjalanan malam, tidak ada pemandangan yang bisa dilihat, karena daripada lihat pemandangan mungkin lebih baik waktunya dipakai buat tidur.

 

Selamat Pagi Praha…

Drama di Hlavni Nadrazi

Tepat jam 5.40 pagi, bus sudah tiba di stasiun Hlavni Nadrazi. Pemberhentian bus berada di depan stasiun kereta api yang merupakan stasiun terbesar dan terpenting yang ada di negara Ceko.

Karena Ceko menggunakan mata uang yang berbeda – Koruna (tidak pakai euro), mau tidak mau begitu tiba di stasiun langsung harus cari money changer. Setelah kesana kemari, tidak juga ketemu penukaran uang yang beroperasi. Mungkin karena ini masih sangat pagi dan sebagian besar kehidupan di eropa dimulai jam 9 pagi, jadi belum ada yang buka.

Mata Uang Ceko – Koruna

 

Keadaan diperparah karena tiba-tiba harus ke toilet, toilet harus bayar dan tidak punya uang. Akhirnya terpaksa ambil di ATM, masalah muncul lagi, pecahan uangnya terlalu besar untuk bayar toilet. Ditengah kebingungan petugas toilet bilang kalau tidak ada uang kecil bisa pakai Kartu Kredit. Langsung mikir,, masuk toilet pakai kartu kredit. Terpaksa keluarin kartu kredit, masukkan ke dalam slot, input pin dan pintu toilet pun terbuka. fyuh. Seumur-umur baru kali ini pakai kartu kredit buat bayar toilet.

 

Pintu Masuk Toilet

 

Dari toilet langsung ke Billa Supermarket buat membelanjakan uang yang masih dalam pecahan besar, beli pisang dan air minum buat sarapan. Harga makanan di Praha jauh lebih murah ketimbang di Paris atau Munich. Pisang bisa ditebus dengan harga kurang dari 1 euro (bila koruna dikonversi jadi euro). Gara – gara belanja cuma sedikit tapi bayar pakai uang pecahan besar, kasirnya rada senewen dan ngedumel. Tapi gapapa-lah, habis mau gimana lagi. Tidak lupa menitipkan tas ransel dan seluruh bawaan di Coin Loker yang ada di stasiun dengan memasukan 100 koruna untuk waktu 12 jam kedepan.

 

Romantisme Praha

Berbekal panduan informasi tempat dari visitacity.com, jelajah kali ini tidak menggunakan tranportasi lokal seperti bus, MRT atau sejenisnya seperti waktu di Paris atau Munich. Entah kenapa kali ini lagi pengen jelajahi kota cantik ini dengan jalan kaki. Sebenarnya cuma punya waktu sehari di Praha dan sore sudah harus kembali ke stasiun untuk berangkat ke Vienna – Austria dengan menggunakan kereta Regio Jet.

So, seharian berjalan kaki menikmati nuansa bohemian dan romantisme Praha jadi opsi paling menarik. Lagipula jarak tempat-tempat yang dituju tidak terlalu jauh dari stasiun, sekitar 1 – 2 km dan ini masih pagi, tenang dan sepi.

 

Masih Sepi

 

Sudut Kota Praha

 

Yang terlintas pertama kali ketika melihat kota Praha adalah serasa dibawa ke negeri dongeng atau negeri penyihir dengan kastil – kastilnya yang megah. Tinggal menambahkan orang – orang berpakaian ala abad 16 plus kereta kuda yang wara-wiri  dan menghilangkan semua atribut modern. Bisa dijamin tidak yang bisa membedakan berada di zaman apa. Praha benar-benar mempesona sejauh mata memandang.

 

Wenceslas Square

Lokasi pertama yang dituju adalah Wenceslas Square, sebuah city square dan jalan raya besar yang merupakan pusat bisnis dan komunitas. Disini merupakan salah satu lokasi yang jadi pusat kegiatan masyarakat, mulai dari perayaan hingga demonstrasi, kurang lebih mirip bunderan HI dan Jalan Thamrin di Jakarta. Bedanya mungkin tempat ini dikelilingi bangunan-bangunan tua dan ada taman di tengah jalan. Saint Wenceslas Square merupakan salah satu tempat saksi sejarah perjalanan Republik Ceko dan Eropa secara umum dan masuk dalam kategori World Heritage Site. Beberapa bangunan sempat hancur pada saat perang dunia 1 dan 2 tapi kemudian direnovasi dan dikembalikan ke bentuk aslinya.

Wenceslas Square

 

National Museum

 

Sudut Kota Praha

 

Ujung jalan di wilayah Wenceslas Square ada gedung megah yang difungsikan sebagai National Museum. Di sekitaran Wenceslas  juga dapat ditemui Hotel terkenal (Hotel Adria), Restoran, dan pertokoan mewah. Tak ketinggalan bangunan – bangunan sarat sejarah seperti ; Ludvik Kysela Lindt Building, Hotel julis, Peterka Building, Melantrich Building hingga tentu saja The BATA Shoes Store yang berdiri sejak tahun 1929. Siapa yang tak kenal sepatu Bata ?. Mungkin banyak yang tidak tau kalau sepatu Bata berasal dari Ceko. Di Indonesia dulu pamor sepatu bata luar biasa. Era 90 an, anak sekolah pasti punya sepatu northstar atau buble gummers, atau ada pameo “beli sepatu/sendal bata aja biar awet”. Sayangnya belakangan pamor Bata semakin menurun dan menurun. Meski begitu di Ceko, Bata tetap sepatu berkelas.

 

Municipal House and The Powder Tower

Dari Wenceslas berjalan kaki menyusuri setiap jalan kecil, melewati berbagai pertokoan hingga tiba di area Municipal House dan The Powder Tower. Pagi ini praha benar-benar cantik dan tenang. Buat siapapun yang ke Praha, harus coba sensasi jalan pagi hari. Ini adalah waktu terbaik menyusuri kota ini. Municipal House sendiri merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di Praha, berdiri sejak tahun 1905 dulunya merupakan area bekas The Royal Court Palace yang dibangun sekitar tahun 1383 sebelum dihancurkan pada awal abad ke 20 karena bangunan tersebut terlantarkan.  Saat ini Municipal house kerap digunakan sebagai tempat pameran dan pertunjukkan orkestra.

 

Municipal House

 

The Powder Tower

 

The Powder Tower merupakan sebuah gerbang monumen yang merupakan pintu masuk pada saat prosesi penobatan raja-raja di Ceko. Selesai dibangun pada tahun 1475, monumen bergaya gothic ini dulunya pernah difungsikan sebagai toko bubuk mesiu.

 

Praha dan Negeri Dongeng

Menyusuri kota tua praha atau The Old Town of Prague seperti membaca lembaran buku dongeng yang tidak ada habisnya, setiap bangunan memiliki detil tersendiri yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Beberapa titik Jalan terbuat dari conblock bukan aspal semakin menambah kesan suasana zaman pertengahan. Di kota tua juga terdapat Museum Voskovyeh Figurn atau lebih dikenal dengan Madame Tussaud Praha. Sayangnya belum bisa masuk karena masih pagi, jadi cuma sempat berfoto di depannya.

 

Museum Lilin

 

Tidak jauh dari lokasi museum begitu keluar dari ujung jalan, terbentang luas old town square yang mungkin merupakan salah satu ruang publik dan lapangan terbesar di Eropa. Waktu berlalu dan matahari mulai keluar dari peraduan dengan sinar hangatnya yang menembus diantara bangunan – bangunan tua yang ada sekitar lapangan. Efek cahaya yang dihasilkan sang surya makin menambah kecantikan Praha pagi ini.

 

The Old Town of Praha

 

Sinar Matahari Dibalik Gereja

 

Jan Hus Monument

 

Ada beberapa bangunan yang mengelilingi Old Town Square seperti St Nicholas Church, Tyn Church, Palac Kinsky, Jan Hus Monument dan beberapa kantor pemerintahan. Selain itu tentu saja ada beberapa restoran dan cafe yang menjadi ciri khas hampir kota-kota di Eropa. Disini juga bisa dijumpai Jam Astronomi atau Praque orloj. Dibangun pada tahun 1410 oleh seorang profesor matematika dan astronomi dari universitas charles bernama Mikulas of Kadan. Jam astronomi ini merupakan Jam astronomi tertua ke 3 di dunia dan satu-satunya yang masih berfungsi hingga saat ini. Setelah abad ke 15 jam ini berkali-kali mengalami kerusakan tapi terus dilakukan perbaikan. Jam astronomi beratraksi setiap jam nya mulai dari Pukul 09 Pagi hingga pukul 11 malam. Meski cuma sebentar, sekitar kurang dari 1 menit tapi cukup untuk menarik minat wisatawan.

 

Jam Astronomi

 

Jam Astonomi

 

The Old Town Of Praha

The Charles Bridge

Meninggalkan Kota Tua Praha, berjalan melewati Prague City Hall, Kompleks Clementium yang terdapat perpustakaan Baroque di dalamnya dan gereja Kostel Salvatora. Setelah melewati Gereja Franstiska Z Assisi langsung terpampang menara masuk dari Charles Bridge. Sebuah jembatan yang membentang di Sungai Vltava yang indah. Mulai dibangun pada tahun 1357 pada era raja Charles IV dan selesai pada awal abad ke 15. Sebelumnya jembatan ini bernama Prague Bridge atau Stone Bridge sebelum berganti nama menjadi Charles Bridge pada tahun 1870. Charles Bridge menghubungkan antara kota tua praha dengan praha castle (Istana Praha). Panjang jembatan kurang lebih 621 meter dengan lebar sekitar 10 meter. Dengan dihiasi tak kurang dari 30 patung yang sebagian besar bergaya barok.

 

Gereja F. Z Asissi

 

Charles Bridge Tower

 

Mumpung sepi foto dulu

 

Salah satu patung yang menghiasi Charles Bridge

 

Pada saat pagi hari jembatan ini tidak terlalu ramai dan ini merupakan waktu yang paling tepat menikmati Charles Bridge dan sungai Vltava. Tapi jangan terkejut ketika menjelang siang, jembatan ini menjadi amat sangat ramai. Sepanjang jembatan akan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjual lukisan sketsa dan souvenir praha. Ada juga pengamen Jalanan seperti group Charles Bridge Swing. Bila senang dengan lagu yang dibawakan bisa membeli CD para pengamen tersebut seharga 10 euro.

 

Charles Bridge Swing Band

 

Tiba di ujung jembatan, mulai memasuki jalan – jalan kecil dengan kanan kiri penjual makanan dan souvenir. Resto – resto yang  ada juga tidak hanya menjual makanan khas ceko tapi juga makanan italia dan negara lainnya. Kontur jalan cenderung semakin mendaki, karena tujuan selanjutnya adalah Prague Castle yang berada di atas bukit. Dari Prague Castle dapat melihat pemandangan kota Praha dari atas bukit.

 

The Prague Castle

Setelah perjalanan mendaki yang cukup melelahkan akhirnya sampai juga di Prague Castle (Kastil Praha). Kastil ini merupakan salah satu kastil terbesar di dunia versi Guinness Book of Records dalam kategori kastil kuno terbesar dengan panjan 570 m dan lebar rata – rata 130 meter. Kastil Praha adalah tempat dimana raja – raja Ceko, Kaisar Romawi dan Presiden Ceko berkantor. Konon katanya Mahkota Bohemian disimpan disalah satu ruangan tersembunyi disini.

 

Praha Castle

 

Kastil Praha dibangun pada abad ke 9 dan merupakan salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan ke Praha dengan lebih dari 1,8 Juta orang pertahunnya. Kompleks Kastil Praha terdiri atas beberapa bangunan yang dibangun dalam kurun waktu beberapa periode. Berawal dari Church of The Virgin Mary kemudian The Basillica of Saint George dan Bassilica of St Vitus  pada abad ke 10.  Pada era Raja Ottokar II pernah juga dibangun ulang dan direnovasi.

 

Basilica St Vitus

 

Salah satu sudut Kastil Praha

 

Pada tahun 1541 pernah terjadi kebakaran yang menghancurkan sebagian besar Kastil dan akhirnya dibangun kembali dengan gaya renaissance pada era Habsburgs. Gejolak politik dan perang pada tahun 1618 juga sempat membuat kastil ini hancur. Pembangunan ulang secara besar-besaran kastil ini dilakukan pada era Empress Maria Theresa pada abad ke 18. Pada tahun 1910 Kastil Praha resmi menjadi kantor presiden chekoslowakia dan dilakukan beberapa penambahan taman didalamnya.

 

Praha Castle

 

Kota Praha dari atas bukit Praha Castle

 

Di sekitar Kastil Praha juga terdapat banyak penjual makanan ringan dan souvenir. Duduk di starbucks yang berada di area kastil sambil menikmati secangkir kopi jadi pilihan yang menarik. Apalagi disuguhi dengan pemandangan kota praha yang begitu cantik.

 

Leaving Praha

Hari sudah siang dan perut harus di isi. Aplikasi muslim pro jadi senjata buat cari lokasi restoran halal terdekat atau paling tidak yang searah perjalan kembali ke Stasiun. Akhirnya diputuskan untuk makan di restoran afghanistan, karena ini satu – satunya yang paling dekat dijangkau dengan jalan kaki. Masuk ke restoran dan mulai pesan menu makanan. Cukup terkejut dengan harganya, mungkin ini menu makanan paling mahal selama di eropa. Kalau di kurskan ke rupiah mungkin sekitar 300 ribu per porsi. Tapi yaa sudah, sesekali makan enak, masa mau makan kebab terus. Menu Nasi Biriyani dan Kambing Guling jadi teman makan siang di Praha setelah itu lanjut Shalat.

Sungai Vltava

Dari lokasi makan siang langsung jalan kaki kembali menuju stasiun melewati rute yang sedikit berbeda. Rencana awal mau ke Lennon Wall tapi karena hari sudah semakin sore dan jam 3 sore harus sudah berada di Stasiun, destinasi itu dibatalkan. Tepat jam 3.30 sore akhirnya tiba di stasiun, ambil tas di Coin Loker dan menunggu kereta Regio Jet yang akan menuju ke kota mozart, Vienna – Austria.

Orang – orang ini lagi berdiri menunggu pengumuman di papan

 

Suasana menunggu informasi di Hlavni Nadrazi

 

Menunggu kereta di Hlavni nadrazi itu unik. Kita tidak pernah tahu kereta yang akan digunakan berada di peron berapa sampai 15 menit sebelum keberangkatan. ketika sudah 15 menit sebelum berangkat baru papan informasi akan menunjukkan peron berapa yang harus dituju. Jadi setelah tahu, ada baiknya langsung bergegas menuju peron jika tidak ingin ketinggalan kereta. Tiba di dalam kereta langsung istirahat menikmati perjalanan dan tak sabar menanti petulangan selanjutnya di Vienna – Austria.

Paris dan eiffel-nya boleh romantis tapi Praha romantisme Bohemian sesungguhnya.

Prague, 1 Mei 2018

Leave a reply