Trip Eropa (Part 9) : Budapest – “Paris” Eropa Timur

Triphology (Travel Blogger) – Jika Eropa bagian barat memiliki Paris sebagai gerbang utama maka Eropa bagian timur memiliki Budapest sebagai salah satu kota yang menjadi destinasi utama para pelancong, tak heran kota ini kerap di juluki sebagai “Paris of  Eastern Europe”. Budapest merupakan Ibukota dari Republik Hungaria, negara Eropa timur yang beriklim continental lembab dimana terdapat perbedaan suhu yang sangat mencolok antara hangat dan panas menyengat dimusim panas dengan suhu di musim dingin. Kali ini juga untuk pertama kalinya merasakan panas yang begitu menyengat di musim semi selama di Eropa.

 

Sudut Kota Budapest

 

Perjalanan Ke Budapest

Udara pagi di Wina serasa menusuk ke pori-pori, dingin dan basah karena hujan semalam. Kalau jam 9 kehidupan baru dimulai di Eropa maka bisa dibayangkan bagaimana kondisi jam 4.30 pagi, sunyi, sepi dan senyap. Pagi – pagi sekali sudah check out dari hotel untuk menuju terminal Vienna International Busterminal (VIB). Sesuai rencana, jam 6 nanti akan menempuh perjalanan darat dengan bus menuju kota Budapest (Hungaria). Tiket flix bus sudah ditangan dan perjalanan dari Wien Westbahnhof menuju VIB seharusnya tidak ada kendala yang berarti. Sampai pada titik internet tidak bisa diajak kerja sama dan turun di stasiun yang salah. Google menginformasikan jarak dari stasiun menuju terminal sekitar 400 meter tapi ternyata realisasinya sekitar 1,5 km. Tapi dasar orang Indonesia, selalu saja ada untungnya, untung hari ini berangkat lebih pagi. Pagi – pagi sudah berolahraga membawa ransel 18 kg dan keringat mulai deras bercucuran.

 

Vienna International Busterminal

 

Tiba di VIB masih sepi dan bus yang akan dinaiki pun belum tiba, alhasil harus menunggu sekitar 30 menit lagi. Area tunggu terminal tidak cukup nyaman, mungkin masih lebih baik area tunggu di terminal – terminal besar di Indonesia. Sekali lagi, untungnya tidak menunggu terlalu lama, Flix bus yang akan membawa ke Budapest pun tiba. Perjalanan dari Wina menuju Budapest ditempuh kurang lebih 3 jam. Bila tidak ada halangan seharusnya akan sampai di Budapest jam 9 Pagi. Hari ini ada janji ketemu dengan teman yang juga sedang trip di eropa,  bedanya mereka lewat jalur selatan (Spanyol dan Portugal). Sebelumnya  memang sudah sepakat ketemu tanggal 3 Mei di Budapest, karena kebetulan pas di tanggal itu posisi Kita berada di kota yang sama.

 

Budapest Nepliget dan Torok Etterem

Jam 9 Pagi, Flix bus akhirnya tiba Budapest Nepliget yang berada di Konyves, Kalman Kart. Karena Hungaria tidak menggunakan mata uang Euro, maka harus ambil uang di ATM untuk bisa dapat Hungarian Forint atau biasa disingkat HUF. Seperti halnya beberapa negara yang kemarin sudah dilewati, beli tiket transportasi lokal (metro subway, bus, tram) jadi satu ritual yang harus dilakukan sebelum menjelajah kota. Agenda di Budapest cuma 1 hari, nanti malam tepat pukul 12 harus naik Flix bus lagi untuk berangkat ke Venesia – Italia.

 

 

Asyik di jalan sampai lupa kalau perut belum di isi dari kemarin malam dan pagi ini benar – benar terasa lapar. Setelah hunting di aplikasi, akhirnya dapat tempat makan halal terdekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kedai makanan Turki Torok Etterem jadi pilihan buat sarapan pagi ini di Budapest. Makanan dengan kuah kari dan baso daging kambing di dalamnya  ditambah sepotong roti memberikan tenaga tambahan setelah perjalanan semalaman. Kedai ini cukup strategis karena persis tidak jauh dari halte tram. Setelah makan, langsung meneruskan perjalanan menuju Buda Castle dengan menggunakan tram.

 

Sarapan pagi ini…

 

Transportasi Budapest

Tiket terusan transportasi lokal ditebus dengan harga 1650 HUF atau sekitar 5 Euro yang dibeli dari mesin tiket yang ada di stasiun metro. Tas ransel dititip di loker coin yang ada di stasiun dengan harga 800 HUF untuk 24 jam penitipan. Meski sistem tranportasinya tidak serumit di kota besar seperti Paris atau Munich, tetap saja butuh waktu untuk beradaptasi dengan jenis, nama, rute, dan waktu transportasi yang ada. Sempat beberapa kali bingung mensinergikan antara informasi yang ada di google maps dengan kondisi asli di lapangan.

 

Tiket Transportasi Lokal

 

Tram mulai berjalan meninggalkan Torok Etterem dan satu demi satu penumpang mulai memadati tram setiap kali Tram berhenti di Halte. Untuk skala kenyamanan, sangat jauh dibanding kota – kota sebelumnya. Mungkin karena tingkat perekonomian, budaya dan kemajuan kotanya yang berbeda dengan kota – kota di Jerman atau Paris. Bisa dibilang suasana di Budapest sama dengan suasana kota – kota di negara berkembang lainnya. Meski penumpang cukup padat pagi ini, tidak mengurangi euforia untuk menikmati Budapest lebih dekat untuk pertama kali.

Dua puluh menit berjalan akhirnya Tram berhenti di halte Ferenc Puskas Stadium. Belakangan setelah turun baru sadar kalau ini adalah stadion nasional Hungaria, Ferenc Puskas adalah legenda bagi persepakbolaan Hungaria pada masa jaya pada kurun waktu 1950 – 1970 an. Awalnya tidak ada niat untuk mampir karena disini hanya akan transit menggunakan subway. Tapi stadion ini terlalu sarat history untuk dilewatkan, jadilah berhenti untuk sekedar foto dan memandang dari kejauhan.

 

Ferenc Puskhas Stadium

 

Masuk ke stasiun subway pertama kali dikejutkan oleh eskalator yang sangat curam dan tinggi. Entah apa yang ada dibenak arsitek yang membangun subway, tapi untuk orang yang phobia ketinggian cukup bikin panas dingin untuk menaiki eskalator di stasiun subway yang ada di kota Budapest, benar – benar sangat curam.

Erzsebet Square dan Budapest Eye

Tiba di Deak Ferenc Ter langsung dihadapkan pemandangan taman Erzsebet Square yang elegan. Erzsebet square merupakan area hijau terbesar di pusat kota Budapest. Alun – alun ini diberi nama Elisabeth, Sisi, Istri Habsburg Kaisar Franz Josept pada tahun 1858. Lalu sempat diganti nama oleh Stalin pada tahun 1956, Engels pada tahun 1953 dan dikembalikan ke nama aslinya pada tahun 1990. Daya tarik taman ini adalah air mancur Danubius, yang terletak di tengah – tengah alun – alun yang dibangun pada tahun 1880 sebagai lambang dari sungai – sungai di Hungaria. Awalnya berdiri di Kalvin ter sebelum akhirnya dipindahkan ke Erzsebet Square.

 

Danubius Fountain

 

Erzsebet Square

 

Disini juga terdapat Budapest Eye, Sebuah bianglala (Kincir raksasa) yang bisa jadi alternatif untuk melihat kota Budapest dari ketinggian. Dengan ketinggian 65 m, Budapest Eye merupakan Kincir Raksasa terbesar di Eropa. Untuk naik keatasnya cukup dengan membayar 2700 HUF atau sekitar 9 Euro. Tidak berlama-lama di lokasi ini karena tujuan utama adalah menuju buda castle. Naik bus 990 melewati jembatan Szechenyi Lanchid di atas sungai Danube yang indah dan turun di Budai Varalagut.  Sebuah pintu terowongan yang merupakan salah satu akses untuk naik ke puncak Bukit tempat dimana Buda Castle berada.

 

Budapest Eye

 

Buda Castle

Sebenarnya ada banyak opsi untuk naik ke atas bukit, bisa menggunakan bus sampai diatas atau merasakan sensasi menapaki puluhan anak tangga. Jika pintu utama sangat ramai, ada alternatif lewat sisi bukit bagian kanan yang jauh lebih sepi dan melewati rindangnya pepohonan dikanan kirinya. Mendaki puluhan anak tangga setelah malamnya perjalanan dengan bus cukup buat nafas tersengal karena fisik tidak cukup fit untuk berjalan mendaki atau mungkin karena memang jarang olahraga. Tapi keinginan untuk melihat keindahan diatas jadi mood booster luar biasa untuk terus melangkah meski harus pelan – pelan.

 

Reruntuhan Buda Castle Kuno

 

Numpang senyum

 

Kantor Pemerintahan

Akhirnya sampai juga diatas, sebuah kawasan luas dengan bangunan tua (tentu saja), istana, gereja dan souvenir store yang tertata apik dan rapi. Hari ini sangat amat terik, cuaca paling panas selama hampir 1 minggu di Eropa tapi hembusan angin di ketinggian bukit sedikit membantu mengurangi panasnya hari ini. Berjalan menyusuri kawasan Buda Castle dengan sejarahnya yang panjang benar – benar membuat imajinasi liar pecinta sejarah untuk membayangkan masa dimana semua ini benar – benar hidup.

Ada apa saja di Buda Castle ?

Buda Castle (Istana Buda) merupakan kompleks istana raja – raja Astro-Hungaria yang dibangun pertama kali pada tahun 1265. Kawasan ini terletak di ujung selatan Castle Hill dan bangunan pertama dibangun pada masa Raja Bela IV dari Hungaria antara tahun 1247 dan 1265. Tidak banyak yang tersisa dari bangunan awal baik karena usia atau perang. Bangunan paling tua tercatat yang berada dikawasan ini dibangun oleh Duke of Slavonia, Duke Stephen pada abad 14.

Patung di Buda Castle

 

Patung di Buda Castle

 

Meski tidak banyak yang tersisa dari bangunan aslinya tapi masih banyak yang bisa dinikmati dan dilihat di lokasi ini. Kita bisa jelajahi National Gallery Hungary atau Magyar Nemzeti Galeria yang lokasinya tersebar di gedung A, B, C dan D dari kawasan Buda Castle. Gallery ini berisi karya seni Hungaria dari zaman kuno hingga abad 20. Selain itu juga terdapat Museum Sejarah Budapest, perpustakaan Szechenyi Nasional dan Matthias Church. Kita juga bisa berjalan melalui labirin dibawah Buda Castle atau berkunjung ke Fisherman Bastion. Buat pecinta sulap disini juga ada The House of Houdini, tahu kan ? The Master of Escape, pesulap yang tewas karena gagal lolos dari trik yang diciptakan sendiri. Secara keseluruhan banyak spot menarik untuk foto, terlebih lokasi ini berada di puncak bukit yang memungkinkan untuk melihat kota Budapest dari ketinggian.

 

Budapest from the Top

 

Matthias Church

Masih dikawasan yang sama ada sebuah gereja yang bernama Matthias Church. Tempat ini menjadi semakin menarik karena tidak jauh dari bangunan gereja ada tempat makan yang memiliki spot cukup menarik untuk berfoto dengan latar belakang kota Budapest. Matthias Church dipercaya dibangun pada tahun 1015 meski tidak ada peninggalan arkeologis yang mendukung hal itu. Sebagian lagi meyakini dibangun pada akhir gaya gothik sekitar abad ke 14 dan secara luas dikembangkan pada akhir abad 19.

 

Matthias Church

 

Tangga Menuju Matthias Church

 

Patung di sudut Buda Castle

 

Szent Istvan Szobra

 

Fisherman Bastion

 

Akhirnya ketemu lagi di Budapest

 

Selama perang dunia ke II gereja sempat rusak parah. Gereja ini dipergunakan sebagai kamp oleh Jerman dan Soviet pada saat perang tersebut selama pendudukan Soviet-Hungaria. Sejak perang dunia ke II hingga tahun 1984, gereja mengalami banyak perbaikan di sisi interior maupun eksterior termasuk perbaikan lonceng gereja. Di dalam Gereja terdapat galleri yang menyimpan karya seni, ukiran batu dan replika mahkota penobatan kerajaan Hungaria.

 

Budapest view dari Matthias Church

 

Budapest

 

 

Selesai berkeliling Buda castle saatnya untuk kembali ke tengah kota (wilayah Pest), kali ini jalan kaki jadi pilihan untuk melewati Szechenyi Chain Bridge, jembatan yang membelah sungai Danube dan memisahkan antara wilayah Buda dan wilayah Pest.

Szechenyi Chain Bridge

Szechenyi Chain Bridge merupakan sebuah jembatan melewati sungai Danube yang memisahkan antara wilayah Buda dan Pest. Kota Budapest dibelah menjadi 2 bagian oleh Sungai Danube. Bagian yang berbukit dan berada disisi barat adalah Buda dan disisi timur yang lebih landai adalah Pest. Dibangun pada tahun 1840 dan dibuka pertama kali pada tahun 1849. Jembatan dirancang oleh seorang insinyur dari Inggris yang bernama William Tierney Clark dan dibangun oleh Insinyur asal skotlandia yang bernama Adam Clark. Jembatan ini merupakan jembatan permanen pertama yang menyebrangi sungai Danube dan menghubungkan antara Buda dan Pest.

 

Szechenyi Chain Bridge

 

Szechenyi Chain Bridge

 

Sungai Danube

 

Szechenyi Chain Bridge

 

Pada perang dunia Ke II jembatan ini pernah diledakkan oleh tentara Jerman dan hancur sebelum akhirnya dibangun kembali dan dibuka pada tahun 1949. Saat ini jembatan Szechenyi menjadi salah satu daya tarik ketika berkunjung ke Budapest.

House of Parliament

Berjalan melewati jembatan hingga berada di sisi wilayah Pest untuk kemudian menuju ke Hungarian Parliament Building. Gedung ini berada tepat di tepi sungai Danube di Wilayah Pest. Dibangun pada tahun 1904, Hungarian Parliament Building merupakan gedung parlemen terbesar ke 3 di dunia. Pemerintah Hungaria mengadakan kompetisi design pada saat itu dan dimenangkan oleh Imre Steindl. Design Imre terinspirasi oleh gedung parlemen Inggris. Gaya bangunan merupakan percampuran dari gothic, renaissanse hingga baroque.

 

House of Parliament

 

President Office

 

Taman di belakang Parliament House

 

Bangunan terdiri atas beberapa bagian. Sisi utara merupakan tempat majelis rendah dan sisi selatan merupakan tempat bagi majelis tinggi. Kedua sisi disatukan oleh sebuah bangunan kubah yang berada di tengah. Sisi sayap bagian utara juga merupakan Kantor dari Perdana Menteri  sedangkan sisi sayap bagian selatan merupakan kantor kepresidenan dari Republik Hungaria.

 

Taman di belakang Parliament House

 

Taman di belakang Parliament House

 

Bangunan berusia 112 tahun ini memiliki 691 ruangan, 2 km anak tangga yang menjangkau hingga ketinggian 96 meter. Total area keseluruhan 18.000 m2 dengan panjang 168 meter dan lebar 123 meter. Ada 27 pintu, 13 lift, dan 29 tangga. Interior gedung dihiasi tak kurang dari 40 Kg emas dengan 152 patung yang berada di dalamnya.

Di kawasan ini selain House of Parlianment juga terdapat kantor – kantor dan gedung pemerintahan disekitarnya. Ada Neprajzi Museum, Kossuth Monumen dan lapangan taman yang cukup luas. Disini juga terdapat kebun bunga lavender cantik dibagian belakang gedung Parlemen.

 

Hosok Tere

Beranjak dari House of Parliament, saatnya menuju Heroes Square atau Hosok Tere yang merupakan salah satu lapangan terbesar di Budapest. Di Heroes Square terdapat monumen berbentuk obelisk dengan patung Archangel Gabriel (malaikat) yang memegang mahkota dan salib dikedua tangannya. Disekeliling monumen terdapat patung The Seven Chieftains of Magyars yang merupakan patung pemimpin dari 7 suku utama yang ada di Hungaria pada masa Carpathian Basin sekitar AD 895. ada 2 kelompok patung di sisi kanan dan kiri dari monumen. Pada sisi kiri ada pantung The couple of labour, King St. Stephen, King St. Ladislus, King Coloman, King Andrew II, Bela IV, King Ladislauss IV dan Louis 1 of Hungary. Sisi kanan patung ada The female statue of peace, The couple of knowledge and glory, John Hunyadi, King Matthias, Istvan Bocskay, Gabriel Bethlen, Imre thokoly, Francis II dan Lajos Kossutt yang patungnya juga dapat ditemui di taman gedung parlemen.

 

Hosok Tere

Masjid Dar Al – Salaam

Karena hari sudah semakin sore, langsung beranjak untuk mencari makan dan masjid terdekat. Masjid Dar Al Salam yang terletak di Bartok Bela ut menjadi tempat shalat dan istirahat hari ini. Sebenarnya ada alasan khusus kenapa memilih masjid ini, karena ada titipan uang zakat dari seorang teman. Cukup sulit menemukan lokasi masjid karena tempatnya yang tersembunyi dan memang tidak tampak seperti Masjid. Hanya sebuah bangunan dibagian bawah apartement kecil. Bagian dalam masjid cukup luas, ada 2 lantai yang diperuntukkan masing – masing untuk jamaah perempuan dan laki – laki. Sampai di Masjid disambut oleh pengurus Masjid dengan ramah dan mempersilahkan untuk shalat. Selesai shalat mereka juga menyuguhi air jeruk dingin. Ditengah moment cuaca terik dan panas hari ini, es jeruk itu bagai oase ditengah gurun. segerr.

 

Bagian dalam masjid Dar Al Salaam

 

Selesai shalat langsung melanjutkan perjalanan kembali ke pusat kota dengan menggunakan subway menuju stasiun Astoria. Saat mampir di Astoria tadi sempat melihat starbucks disini, jadi kembali kesini untuk beli tumbler Budapest buat oleh-oleh.  Meski cuaca panas, menyusuri pusat kota Budapest dengan berjalan kaki tetap saja jadi sesuatu yang menarik. Sebenarnya tidak ada yang berbeda secara obyek antara kota eropa satu dan yang lainnya. Semua menampilkan bangunan tua khas Eropa masa lampau. Perbedaan yang terlihat adalah dari sisi sentuhan budaya di masing – masing negara yang turut mempengaruhi tampilan dari bangunan itu sendiri. Misalnya Praha dengan Wina, meski ada bangunan yang sama – sama bergaya baroque atau gothic tetap saja ada unsur local yang benar – benar membuat kita sadar mana Wina dan mana Praha.

 

Sudut Kota Budapest

 

Sudut Kota Budapest

 

Toko oleh2 paling murah

Makan di Budapest

Untuk urusan makan sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menemukan restoran makanan halal di pusat kota Budapest, karena restoran Turki bertebaran dimana – mana. Mungkin ini buntut dari wilayah Eropa Tengah dan Timur yang dulunya merupakan kekuasaan dari Turki Ustmany. Star Kebab Turkish Restaurant yang berada tak jauh dari Stasiun Metro Astoria menjadi tempat santap sore hari ini. Tempatnya nyaman dan pilihan makanannya beragam. Untuk rasa cukup masuk di lidah orang Indonesia dan porsinya juga besar, mungkin bisa dimakan untuk 2 orang. Nasi dan tumis daging kambing brokoli jadi menu makan kali ini.

 

Menu Makan Malam

 

Selain Star Kebab juga ada beberapa kedai Kebab disekitaran pusat kota Budapest, bisa di cari dengan menggunakan google maps. Semuanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Stasiun Astoria atau stasiun lainnya yang ada di pusat kota. Jangan ragu untuk bertanya kehalalan restoran yang dituju, tanyakan saja apakah ini boleh untuk muslim. Mereka akan dengan senang hati menjawab, termasuk bila itu bukan makanan yang boleh dimakan oleh seorang Muslim.

Kembali ke Budapest Nepliget

Badan sudah mulai terasa tidak enak, mungkin karena keletihan perjalanan. Meski sudah makan tetap saja memang butuh istirahat. semenjak perjalanan dari Wina, Praha dan Budapest belum tidur secara benar (hanya tidur dalam bus) dan masih ada 1 perjalanan lagi tidur dalam bus menuju ke Venesia. Perjalanan dari Budapest menuju Venesia menjadi salah satu perjalanan paling lama selain dari Paris menuju Munich sebelumnya.  Dengan kondisi itu, istirahat di Terminal bus sambil menunggu bus ke venesia menjadi pilihan memungkinkan dibandingkan memaksakan diri menghabiskan waktu menjelajahi kota kembali.

Panasnya Budapest

 

Time To Go

Tiba di Nepliget, ambil tas di loker coin stasiun, waktu menanti pun tiba. 4 jam di stasiun waktu yang lumayan cukup untuk beristirahat sambil mencatat semua hal yang menarik di Ipad. Dipikir – pikir pada akhirnya terjawab kenapa ada teman yang begitu ingin sekali kembali ke Budapest. Kota yang menarik, murah dan menyenangkan meski awalnya sempat underestimate tapi ibarat comeback dalam pertandingan sepakbola, budapest telah memenangkan hati Saya hari ini.

Perjalanan ke Venesia akan sangat panjang kurang lebih 12 jam. Penasaran dengan petualangan apalagi yang bisa dilihat disana. Adalah hal yang akan sangat menyenangkan dapat ke kota yang menjadi tempat set dalam film The Tourist (Angelina Jolie dan Johny Deep) atau kejar – kejaran ala The Italian Job. We will see…

Bungiorno Venice….

Budapest, 3 Mei 2018

Leave a reply