Trip Eropa (Part 8) Vienna : The City of Mozart

Triphology (travel blogger) –  Jika ada kota yang dapat merefleksikan Eropa dalam sebuah lukisan besar, itu adalah Vienna. Kota tempat dimana seorang komposer meniti karir dan dikenal, siapa lagi kalau bukan Wolfgang Amadeus Mozart. Seorang komposer yang justru menciptakan karya musik fenomenalnya disaat kehilangan kemampuannya dalam mendengar. Meski lahir di Salzburg yang berjarak 300 km dari Vienna, tapi Mozart menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kota ini.

 

 

Vienna atau Wina merupakan Ibukota dari Republik Austria. Selama berabad-abad kota ini berperan sebagai ibukota dari Kekaisaran Habsburg (Astro-Hungaria) dan menjadi pusat  peradaban kota Eropa tengah bagian selatan. Arsitektur bangunan yang ada sangat merefleksikan bentuk – bentuk terbaik dari setiap fase zaman di eropa. Mulai dari era ghotic, barok hingga modern. Sempat hancur lebur akibat perang dunia Ke II sebelum akhirnya bangkit dan menjadi salah satu kota Industri modern dan pusat komunikasi di Eropa.

Perjalanan Ke Vienna

Kereta api Regio Jet melesat meninggalkan keindahan Praha menuju Wina. Kota Wina dilewati oleh jalur kereta api lama Orient Express (hmm jadi ingat Film Murder on the Orient Express). Jalur yang menghubungkan antara Istanbul (Turki) hingga Calais (Perancis) yang sudah ada sejak tahun 1883. Perjalanan dari Praha ke Wina dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 4 Jam. Tidak perlu khawatir akan membosankan sepanjang perjalanan, karena pemandangan musim semi eropa tengah nan cantik akan membuat waktu berlalu begitu cepat.

 

Suasana dalam kamar kereta api

 

Tiket kereta ekonomi sudah termasuk makanan ringan, air mineral gratis dan secangkir kopi di perjalanan. Satu coach (kamar) kereta terdiri atas 6 orang dan dalam satu gerbong bisa terdiri dari 5 sampai 6 kamar. Kereta hari ini kelihatan penuh dan beberapa kali teman satu ruangan berganti orang. Meski berangkat pukul 4.30 sore hari dan tiba di Wina pukul 21.00, hari masih terlihat terang dan cukup jelas untuk menikmati setiap pemadangan yang ada. Saat musim semi matahari memang baru terbenam sekitar pukul 21.30 malam.

Kereta api akhirnya tiba di tujuan, stasiun Wien Hauftbahnhof yang merupakan salah satu stasiun terbesar di Wina. Dari stasiun langsung menuju hotel dengan berjalan kaki. Jarak stasiun dan hotel kurang lebih 300 meter. Hotel A&O Wien Hauftbahnhof jadi tempat bermalam selama 2 malam kedepan. Hotel ini merupakan hotel bintang 2, termasuk salah satu hotel budget yang cukup murah dan lokasinya strategis. Untuk kamar dan kenyamanan masih kalah dibandingkan Letomotel yang ada di Munich. Tapi cukuplah untuk sekedar istirahat. 

Malam ini tidak disangka hujan turun dan untuk pertama kalinya merasakan hujan di Eropa. Dengan kondisi badan yang sudah cukup lelah, cuacanya sangat mendukung buat tidur. Malam ini harus istirahat, karena besok petualangan di Wina baru saja dimulai.

Transportasi di Wina

Transportasi di Wina sama seperti negara Eropa pada umumnya, semua sudah terintegrasi. Bus, tram dan kereta bisa dinaiki dengan menggunakan 1 tiket terusan dengan periode waktu yang bisa dipilih, Harian (24 Jam), 7 hari atau satu bulan. Untuk membeli tiket transportasi lokal bisa dilakukan di counter ticket atau mesin ticket yang ada di stasiun. Tiket untuk 24 jam ditebus dengan harga 8,73 euro. Meski menginap selama 2 malam di Wina, sebenarnya waktu efektifnya hanya 1 hari penuh, karena besok pagi-pagi sekali sudah harus berangkat ke Budapest (Hungaria) dengan bus paling pagi.

Mesin Tiket

 

Tiket Lokal Transport

Kondisi stasiun subway hampir tidak jauh berbeda dengan di Munich tapi lebih baik dibandingkan di Paris. Kereta juga tidak terlalu penuh, entah kalau di jam – jam tertentu. Tapi overall selama di eropa (kecuali di Paris dan budapest) belum menemukan kepadatan penumpang yang berarti seperti padatnya KRL di Jakarta meski di jam – jam sibuk.  Jalur transportasi di Wina juga tidak serumit di Paris. Banyak alternatif transportasi yang dapat digunakan terutama bila dari Bandara. Selain kereta api, juga ada jalur bus VAL (Vienna Airport Lines). Val terbagi atas 3 jalur utama, Val 1 ke westbahnhof, Val 2 ke Morzinplatz dan Val 3 ke Donauzentrum.

Catredal St. Stephan

Dari stasiun Wien Hauftbahnhof berangkat ke Stephansplatz dengan menggunakan kereta subway U1 untuk menuju destinasi pertama yaitu Gereja Cathedral St. Stephan. Lokasinya di pusat kota Wina dan merupakan salah satu bangungan gereja yang paling penting. Dibangun pada tahun 1137 dan selesai pada tahun 1160, bangunan ini telah menjadi saksi bisu dari banyak peristiwa penting dalam sejarah Austria. Gereja St. Stephan terkenal dengan menaranya yang menjulang setinggi 136 meter (lebih tinggi dari monas, 132 m). Didalam gereja terdapat altar , Mariapocs Icon, Pulpit dengan gaya Gothic dan beberapa chapel. Disini juga terdapat pula makam dari dari kaisar Frederick III yang merupakan Kaisar pertama dari Dinasty Habsburg yang memerintah Austria pada abad ke 14 dan meninggal pada tahun 1493.

St. Stephans

 

Halaman Gereja

 

Interior Gereja

 

Interior Gereja

 

Organ Tua

Setiap hari gereja ini masih difungsikan sebagai tempat peribadatan, meski begitu pengunjung tetap dapat masuk dan berkeliling di jalur yang telah disediakan. Di dalam gereja juga dijual souvenir – souvenir yang bisa dibeli dan dibawa pulang. Di pintu masuk Gereja biasanya ada beberapa orang yang menawarkan tiket pertunjukkan orkestra. Sales tiket orkestra ini akan banyak ditemui di tempat – tempat wisata. Jika berminat dan ingin merasakan alunan karya mozart dan beethoven langsung di Wina, anda harus merogoh kocek yang lumayan dalam. Yang jelas tidak cocok buat kantong backpacker, kecuali memang sudah diniatkan untuk menonton.

Michaelerplatz

Meninggalkan gereja Stephanplatz, perjalanan dilanjutkan menyusuri jalan – jalan kecil dan pertokoan yang berada di pusat kota Wina. Mulai dari Zara, Prada, Luis Vuitton hingga Emporio Armani. Sepanjang perjalanan yang terlihat adalah bangunan klasik gaya baroque dan gereja yang cukup banyak. Menyusuri jalan Graben hingga Kholmarkt sampai akhirnya tiba di Michaelerplatz yang merupakan salah satu ruang publik yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan karena dekat dengan Istana Hofburg dan tempat – tempat wisata lainnya di Wina.

Gerai Louis Vuitton

 

Dior

 

Michaelerplatz

 

Sudut Michaelerplatz

Michaelerplatz atau alun – alun St Michael, di dominasi oleh sebuah bangunan bergaya neo-baroque yang merupakan gerbang dari Istana Hofburg. Disini juga terdapat Looshaus yang merupakan bangunan modern pertama di kota Wina. Ditengah alun – alun terdapat area terbuka dimana terdapat sisa reruntuhan bangunan romawi abad pertengahan yang dapat disaksikan oleh para wisatawan.

 

Sisa Reruntuhan Romawi

 

Adapula Gereja St. Michael atau The Michaelerkirche. Dibangun pertama kali pada tahun 1221 dan direnovasi beberapa kali dengan berbagai macam gaya arsitektur hingga saat ini.  Menara gereja didesain bergaya gothic dan berasal dari abad 14 sementara bagian fasadnya bergaya neo klasikal yang berasal dari tahun 1792. Yang menarik adalah patung – patung malaikat yang menggambarkan malaikat turun dari langit (fallen Angel)  karya Lorenzo Matielli. Interior gereja bergaya baroque dihiasi dengan gaya fresco renaissance dan ada juga altar megah yang dibangun pada tahun 1714 oleh Johan David Sieber.

Segarnya….

Hofburg Palace

Istana Hofburg sendiri adalah kawasan istana kekaisaran Astro-Hungarian yang terdiri dari banyak bagian dan gedung. Salah satu yang terkenal adalah Michaelertrakt, yang merupakan salah satu sayap istana imperial yang paling ramai dikunjungi yang berada di alun – alun St. Michael. Awalnya dirancang oleh Josef Emanuel Fischer Von Erlach pada tahun 1720, tetapi proyek itu tertunda untuk waktu yang lama. Sebelum akhirnya seorang arsitek dari Austria Ferdinand Kirschner mengikuti rencana awal Erlach dan melakukan pembangunan sayap pada tahun 1893 (lebih dari 200 tahun setelahnya). Ditengah bangunan sayap ada gerbang yang disebut Michaelertor yang dihiasi oleh patung Hercules  dan air mancur besar.

Michaelertrakt

Dari gerbang Michaelertor berjalan kaki mengelilingi Hofburg palace dan keluar di area taman yang sangat luas. Disisi taman ada kantor pemerintahan, tak heran karena memang saat ini Hofburg Palace masih difungsikan sebagai official home dari President Austria. Pengunjung dapat masuk ke dalam Istana dengan biaya sekitar 12 sampai dengan 28 euro. Tour wisata dimulai dari bagian imperial apartment untuk melihat semua furniture dan dekorasi klasik. Berlanjut ke Sisi Museum dan berakhir di Imperial Silver Collection. Di kawasan ini juga ada jasa penyewaan kereta kuda untuk berkeliling dengan kusir berpakaian ala abad pertengahan.

 

Kereta Kuda

 

 

Di eropa harga air minum sangat mahal dan membawa tempat air (tumbler) adalah satu keharusan jika ingin hemat. Selama di Paris, Munich, dan Praha  untuk minum hanya mengandalkan air keran yang umumnya memang sudah layak minum, meski sesekali juga beli air minum. Tapi untuk keran air minum di area publik baru kali ini menemukannya, di lapangan Hofburg Palace dan rasanya benar – benar menyegarkan. Cuaca siang ini cukup terik dan lembab. Untuk masalah cuaca, Wina (musim semi) lebih cocok buat orang Indonesia mirip cuaca di Bandung pagi hari.

 

Kawasan Hofburg

 

Kawasan Hofburg

 

Art History Museum & Natural History Museum

Dari Hofburg perjalanan berlanjut hingga di ujung jalan Burgring. Ada 2 bangunan museum yang saling berhadapan dengan taman yang cantik di tengahnya. Disisi kiri ada Art History Museum dan disisi kanan ada Natural History Museum. Sedangkan dibagian depan seberang jalan Museumplatz ada Leopold Museum yang merupakan salah satu museum seni modern di Eropa dan Museum Quartier yang merupakan bangunan bergaya baroque, salah satu komplek seni dan budaya terbesar di dunia.

Kawasan Natural History Museum

 

Patung depan taman Art History Museum & Natural History Museum

 

Art history museum merupakan salah satu museum seni terbaik di dunia, tidak kalah dengan Louvre atau Prado dalam hal jumlah koleksi yang dapat ditemukan disini. Museum ini memiliki koleksi mulai dari Mesir, Yunani, hingga karya seni eropa seperti Pieter Bruegel’s (Hunters in the snow). Selain itu juga ada karya Rubens, Rembrant dan koleksi Albrecht Durer seperti blue madonna dan sebagainya. Untuk pencinta lukisan, museum ini layak dipertimbangkan sebagai destinasi pilihan.

Natural history museum (museum sejarah alam) memiliki hampir 30 juta objek yang menempati bangunan seluas 94.000 kaki dengan 39 ruang pameran. Museum sejarah alam di Wina juga merupakan museum sejarah alam terbesar ke 3 di Dunia setelah New York dan London. Menggunakan bangunan bergaya Neo-renaissance yang indah dan memiliki beberapa artifak ribuan tahun seperti patung kecil venus di  Willendorf yang berusia 20.000 tahun bersama dengan kerangka dinosaurus yang telah direkontruksi kembali. Museum ini terdiri atas 2 lantai dan cocok bagi segala usia. Sayangnya hampir semua petunjuk dan informasi dalam museum menggunakan bahasa Jerman. Tapi jika membutuhan guide bahasa inggris, ada jadwal tesendiri setiap Jum’at dan sabtu sore.

 

 

Kereta Kuda

 

Salah satu sudut Vienna City Center

 

 

Setelah berkeliling dan mengambil gambar berlanjut mengambil rute jalan yang sama untuk kembali lagi ke area hofburg palace. Menyusuri setiap jalan di pusat kota (city center of Vienna) melewati Judische Museum Der Stadt Wien, Art Gallery, hingga kembali ke Stephansplatz untuk naik kereta U-bahn. Kali ini tujuannya adalah menuju ke Belvedere Palace, sebuah istana cantik nan megah dengan taman – taman yang Indah layaknya di negeri dongeng.

Belvedere Palace

Istana Belvedere merupakan suatu kawasan bangunan bersejarah yang berada di distrik ketiga kota Wina. Terdiri dari dua istana dengan arsitektur Baroque, sebuah Orangerie dan kandang kuda istana. Istana Belvedere atas dan bawah dipisahkan oleh sebuah taman besar yang dihiasi oleh patung – patung bergaya baroque, bunga – bunga dan air mancur yang cantik.

Belvedere Palace

 

Belvedere Palace

 

Istana ini dibangun pada era pembangunan besar kota Wina saat kota ini menjadi ibukota dari kekaisaran Austria dan dijadikan tempat kediaman oleh dinasti Habsburg. Periode ini terjadi saat kekaisaran Austria mengalahkan Kesultanan Turki Ustmaniyah lewat serangkaian perang pada masa era Pangeran Eugene. Dibangun sebagai tempat sang pangeran beristirahat selama musim panas, Istana Belvedere  menjadi atraksi wisata terbuka untuk umum sebagai sebuah museum yang menyimpan berbagai karya seni ternama.

Belvedere Palace

 

Taman antara Belvedere Atas dan Belvedere Bawah

Masuk ke halaman Balvedere sudah disuguhi pemandangan taman dengan kolam yang besar dan  latar belakang Istana Balvedere atas yang megah. Halaman taman istana begitu luas dengan dua jalur jalan di kanan dan kirinya. Sampai depan Istana akan ada gerbang akses untuk menuju ke taman yang berada antara Istana Belveder atas dan Istana Belveder bawah. Ada juga pintu masuk menuju museum, untuk dapat masuk ke dalam museum pengunjung dikenakan biaya sekitar 14 euro. Jam buka museum Pkl. 10 pagi dan tutup pada pukul 6 sore. Disisi lain Istana juga terdapat restaurant dan penjual souvenir.

 

 

Tidak terlalu lama berada di lokasi ini karena hari sudah semakin sore. Saatnya mencari masjid untuk shalat dan cari tempat makan siang yang halal. Islamic Center of Wien menjadi tujuan selanjutnya. Saat sedang menuju hal tram sempat mampir disebuah toko souvenir dan alhamdulillah harganya cukup murah dibandingkan beberapa tempat yang ditemui sebelumnya. Untuk souvenir di Wina memang sangat mahal dibandingkan beberapa negara yang sudah di singgahi. 1 gantungan kunci umumnya bisa bernilai hingga 7 euro atau sekitar 100 ribu rupiah.

Islamic Center of Wien

Dari Belvedere Palace naik tram ke arah Spittelau untuk kemudian disambung dengan naik subway U6 jurusan Wien Floridsdorf dan turun di Neue Donau. Islamic Center Of Vienna berapa tepat disisi sungai Danube yang cantik. Turun dari stasiun berjalan menyusuri tepian sungai Danube dengan airnya yang berkilauan karena cahaya matahari. Tampak beberapa orang sedang berenang atau berjemur di tepian sungai. Maklum Austria tidak memiliki pantai, jadi banyak orang yang berjemur badan di tepi sungai apalagi bila musim panas tiba.

Sungai Danube

Masjid yang merupakan masjid termegah dan pusat kegiatan Islam di Wina ini mulai dibangun pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1979.  Pada tahun 1969 komunitas islam yang berada di Wina membeli tanah seluas 8.300 m2 untuk dibangun masjid. Namun karena kesulitan keuangan pembangunan sempat tertunda beberapa kali hingga pada tahun 1975 Raja Faisal dari Saudi Arabia memberikan dukungan finansial untuk pembangunan masjid. Richard Lugner dipilih sebagai kontraktor yang memimpin pembangunan masjid ini dan proyek dimulai pada tahun 1977. Presiden Austria saat itu Rudolf Kirchshclager meresmikan masjid ini pada tahun 1979. Masjid Islamic Center of Wien memiliki sebuah menara setinggi 32 menter dengan kubah berdiameter 20 meter.

 

Masjid Wina

 

Shalat di Masjid ini sangat nyaman, kebersihannya dijaga dengan baik. Orang – orang yang ditemui menyambut dengan ramah, terlebih saat tau Saya berasal dari Indonesia. Selesai shalat tampak ada rombongan group pelajar Wina yang masuk ke areal masjid didampingi seorang guide dari pihak masjid. Mirip seperti study tour. Mereka dijelaskan tentang sejarah masjid dan tentang Islam secara umum hingga praktik berwudhu dan shalat. Dari aktivitas disini sebenarnya cukup representative untuk melihat bagaimana masyarakat eropa sudah mulai menerima Islam dengan sangat baik dan semoga kedepannya dapat berkembang jauh lebih baik.

 

Mimbar

Mozartdenkmal (Mozart Statue)

Saat keluar dari masjid baru teringat ada satu tempat yang terlewat dikunjungi, Patung Mozart. Lokasinya sebenarnya berada di sekitaran Hofburg Palace, tepatnya di taman yang berada disisi belakang gedung pemerintahan. Dari masjid langsung berangkat ke lokasi menggunakan kereta Subway kembali Spittelau dan lanjut dengan tram. Diperjalanan mampir sebentar di kedai kebab kaki lima untuk menikmati makan siang hari ini. Kebab menjadi makanan yang paling mudah ditemui baik di Austria maupun di negara eropa lainnya. Apalagi fakta bahwa dulunya Austria pernah diduduki oleh kesultanan Turki Ustmaniyah sehingga membuat banyak sekali peninggalan budaya Islam yang ada di Austria, termasuk makanannya.

 

Patung Mozart

 

Kebab Porsi Besar

 

Monumen ini terletak di sekitar Burggarten (Taman Istana). Pada saat musim panas dimana banyak wisatawan berkunjung ke austria, lokasi ini merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi wisatawan untuk sekedar berfoto atau berjalan di taman.  Burggarten adalah taman yang sangat luas berlokasi di dekat Hofburg Palace, Palmenhaus (a Historical Greenhouse) dan sangat dekat dengan gedung Vienna State Opera.

Heroes Monument of The Red Army (Soviet War Memorial)

Beranjak dari patung mozart awalnya hanya ingin berkeliling kota Wina dengan menggunakan tram. Tapi diperjalanan melihat sebuah monumen yang cukup megah. Karena penasaran langsung turun di pemberhentian tram terdekat.  Ini adalah Heroes Monument of The Red Armi atau Soviet War Memorial. Monumen ini berlokasi di Schawarzenbergplatz, Vienna. Monumen berupa pilar – pilar dan sebuah tugu menjulang setinggi 12 meter dengan patung tentara merah Soviet diatasnya. Di depan monumen ada air mancur dan taman disekelilingnya. Monumen ini dibangun sebagai peringatan atas 17.000 tentara soviet yang terbunuh pada saat pembebasan Austria dari tangan Nazi Jerman pada perang dunia ke 2. Presiden Rusia Vladimir Putin pernah berkunjung ke monumen ini pada tahun 2007 untuk meletakkan karangan bungan dan secara khusus berterimakasih kepada Austria karena masih merawat monument tersebut.

 

Hero’s Monument

 

 

Monumen ini dibangun pada tahun 1945 sebagai penanda area zona pendudukan tentara soviet. Saat tentara Nazi jatuh, seperti halnya Berlin, Wina dibagi menjadi 4 zona pendudukan militer sekutu yang terdiri dari Amerika, Inggris, Perancis dan Soviet. Uni Soviet memilih wilayah Palais Schawrzenbergplatz seluas 280 m2 sebagai lokasi untuk membangun situs tersebut.

Tidak terasa hari sudah semakin sore, saatnya kembali ke hotel dan istirahat. Besok pagi – pagi sekali harus sudah keluar dari hotel untuk berangkat ke Budapest dengan menggunakan flixbus. Wina, mozart dan segala keunikannya jelas menampilkan sisi yang berbeda. Wina menjadi salah satu kota yang sangat nyaman untuk tinggal dan berkunjung. Mulai dari orang, lingkungan, makanan sampai cuacanya cukup bersahabat.  Bila Praha memberikan romantisme bohemian dari arsitektur bangunan dan budayanya maka Wina menampilkan romantisme musik klasik yang tidak dapat dipisahkan.

Danke Vienna…

Vienna, 3 Mei 2018

 

Leave a reply