Trip Eropa (Part 11) Juventus, Turin dan Mimpi

Triphology (travel blogger) – Perjalanan ke Turin adalah sebuah mimpi yang menjadi kenyataan. Turin atau Torino,  sebuah kota Industri yang terletak di barat laut Italia, tepatnya di tepi barat sungai Po. Ibukota dari provinsi Pieomente ini dikenal dunia karena merupakan homebase dari perusahaan otomotif FIAT dan tentu saja Juventus. Turin juga merupakan tuan rumah olimpiade musim dingin tahun 2006 dan universiade musim dingin 2007.  Dahulu Turin merupakan Ibukota pertama Italia sebelum berpindah ke Roma. Mulai dari didiami oleh bangsa Taurini hingga dikuasai oleh bangsa Savoia pada tahun 1050, Turin penuh dengan sejarah panjang dari masa pra-romawi hingga saat ini.

Tronchetto Venezia

Terminal Tronchetto Venezia malam ini terasa dingin dan cukup sepi penumpang, mungkin karena tidak terlalu banyak orang yang memilih perjalanan tengah malam. Sambil nunggu bus, coba menghangatkan diri dengan berjalan – jalan disekitar terminal tapi tetap saja dinginnya masih terasa. Ada beberapa penumpang asal Inggris, Amerika, dan rombongan turis Malaysia yang juga  menunggu bus di tempat yang sama tapi dengan jurusan yang berbeda. Tepat pukul 11 malam, bus yang dinanti akhirnya tiba untuk kemudian berangkat dari Tronchetto Venezia menuju Turin. Bila tidak ada halangan seharusnya bus akan tiba di kota Turin pada pukul 7 esok hari.

Suasana Tronchetto Tengah Malam

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini benar – benar membuat perasaan campur aduk antara haru, bahagia dan tidak sabar untuk segera tiba. Turin adalah kota impian, kota tempat Juventus berada, Klub sepakbola yang sudah menjadi idola sejak kecil. Bisa berkunjung ke Turin adalah mimpi masa kecil yang jadi kenyataan, dreams come true. Itsn’t just ordinary journey, it’s such like “football holy Journey” for me.

Porta Nuova dan Copet

Pemberhentian flix bus di turin ternyata cukup jauh dari stasiun kereta Porta Nuova. Alhasil harus berjalan kaki karena belum ada tiket untuk naik lokal bus. First impression turin, kota yang tidak terlalu besar, tenang dan cukup menyenangkan. Tidak serapi kota – kota eropa pada umumnya, beberapa taman juga tampak tidak terurus. Sangat disayangkan memang bila melihat fakta bahwa disini terdapat salah satu klub sepakbola terbaik tidak hanya di eropa tapi juga di dunia yang secara otomatis menjadi daya tarik bagi wisatawan berkunjung kesini. Anyway, udara pagi ini sangat sejuk dan sepertinya Turin baru saja diguyur hujan tadi malam.

Porta Nuova

Melewati pedestrian, berjalan kaki kurang lebih 1 km akhirnya tiba di Porta Nuova, stasiun kereta dan terminal hub terbesar di kota Turin. Stasiun masih tampak sepi, hanya ada beberapa orang dan toko saja yang buka, mungkin karena masih pagi. Yang menariknya adalah banyaknya papan peringatan “awas copet” di berbagai titik. Eropa memang dikenal rawan copet bagi para turis, tapi soal pengumuman “awas copet” mungkin ini paling banyak yang pernah ditemui sejauh ini.

Untuk membeli tiket transportasi lokal bisa diperoleh di loket tiket atau mesin tiket seperti biasanya. Lokasi mesin tiket berada di lantai bawah dekat dengan pintu masuk menuju peron subway. Harga tiketnya cukup murah, lokal transportasion untuk 48 jam kedepan bisa ditebus dengan harga 7,5 euro.  Seolah sudah menjadi standar yang berlaku di eropa, tiket ini merupakan tiket terusan untuk berbagai moda transportasi, seperti bus, tram dan tentu saja metro (subway).

Apartemen Airbnb

Sesuai rencana, dari Porta Nuova langsung menuju lokasi penginapan yang sudah di sewa sebelumnya lewat situs airbnb.com. Untuk kali ini sengaja memilih airbnb karena mencari penginapan yang murah dan dilengkapi dengan fasilitas mesin cuci. Hari ini harus cuci baju, karena sudah tidak ada lagi baju bersih yang bisa dipakai. Baju yang dibawa memang hanya di set untuk 9 hari perjalanan, agar tidak terlalu berat. Dengan baju 9 hari saja berat ransel mencapai 18 kg, jadi tidak kebayang kalau misalkan bawa baju untuk 17 hari.

Pemandangan dari Kamar Apartement

Pemilik apartement bernama matteo, masih muda, mungkin sekitar 25 tahunan,  tinggal bersama keluarganya di lantai paling atas. Lokasinya juga sangat mudah untuk di akses karena persis di depan halte tram Fermata Emillia. Soal tempat, bisa dibilang ini tempat terbaik selama tinggal di eropa. Rumah Matteo benar – benar keren, semua perlengkapan rumah tertata rapi, baru, bersih, dapur lengkap. Pokoknya dengan harga kurang lebih 700 ribu rupiah permalam, ini lebih dari ekspektasi yang diharapkan.

Untuk yang mau ke Turin dan butuh penginapan bisa contact Matteo di situs airbnb ini (klik).  Sangat direkomendasikan, karena selain tempatnya yang luar biasa, Matteo dan keluarganya juga sangat – sangat ramah dan baik. Di sekitar lokasi juga banyak terdapat minimarket atau kedai yang jual bahan makanan halal, mungkin karena banyak imigran asal timur tengah dan Afrika utara yang juga tinggal disekitar kawasan ini.

Buruknya Sarana Transportasi

Setelah beristirahat sejenak di apartement langsung berangkat menuju ke Juventus Stadium, target hari ini mau ke J Museum atau Museum Juventus yang berada di Kawasan Juventus Stadium. Diperjalanan sempat mampir ke kedai roti untuk membeli beberapa roti dan air mineral untuk bekal di perjalanan. Sekedar saran, untuk air minum sangat disarankan membeli air mineral karena mungkin air keran di Italia tidak bisa langsung diminum seperti negara eropa lainnya (menurut beberapa sumber).

Tram di Turin

Jika ada yang paling menyebalkan dari kota Turin adalah sarana transportasinya yang tidak on time. Kita bisa menunggu lebih dari waktu tunggu yang ada di papan informasi halte, bisa hitungan menit bahkan jam. Jangan berharap tram atau bus akan tiba on time di turin. Setelah perjalanan dengan menggunakan bus dan tram akhirnya tiba di kawasan Juventus Stadium. Stadion megah milik klub sepakbola Juventus yang selesai dibangun tahun 2012 silam. Perasaan haru, senang, bahagia semua jadi satu. Gimana tidak, ini adalah mimpi selama lebih dari 20 tahun untuk bisa menjejakkan kaki di stadion ini dan sekarang benar – benar ada di depan mata dan luar biasa megah.

Side of Allianz Stadium Turin

Stadion Milik Sendiri

Stadion ini dibangun diatas lahan bekas stadion Communale milik pemerintah kota turin sebelum akhirnya dibeli dan dibangun kembali sebuah stadion baru. Communale sendiri sempat menjadi kandang Juventus untuk beberapa lama sebelum pindah ke Olimpico Torino. 

Juventus Stadium merupakan satu – satunya stadion sepakbola yang dimiliki sebuah klub. Umumnya stadion di Italia dimiliki oleh pemerintah kota dan klub menyewa ke pemerintah. Kondisi ini berakibat pada klub tidak memiliki pemasukan yang maksimal dari hasil penjualan tiket pertandingan. Dengan memiliki stadion sendiri, Juventus telah memasuki babak baru dalam Industri sepakbola sehingga diharapkan mampu bersaing dengan klub papan atas eropa lainnya.

Kawasan Juventus Stadium

Juventus Stadium merupakan sebuah kawasan olahraga, mirip GBK di Jakarta. Selain ada stadion sepakbola, ada juga J Medical (klinik kesehatan), J Store (Toko Merchandise Resmi Juventus), J Museum (Museum Juventus), dan pusat perbelanjaan (Mall). Diseberang Juventus Stadium juga terdapat Continassa yang merupakan Head Office dari Juventus dan tempat latihan punggawa Juventus setiap harinya. Melihat semua ini benar – benar speechless dan takjub, masih tidak percaya kalau benar – benar berada disini.

Pedagang Kaki Lima di Kawasan Stadion
Antrian Pagi ini

Lokasi yang pertama di kunjungi tidak lain dan tidak bukan adalah J Museum. Museum yang berisi semua hal tentang perjalanan panjang Juventus dari awal berdiri tahun 1897 sampai dengan saat ini. Mulai dari dokumentasi, memorabilia, jersey pemain legendaris seperti Del Piero, Zidane, Sivori,  hingga trophy dan piala yang pernah dimenangkan oleh Juventus. Ada juga medali, plakat, hingga sepatu sepakbola yang pernah dipakai oleh legenda Juventus. Bisa dibilang semua sejarah juventus terekam dan tersimpan dengan baik dalam Museum ini. Tiket masuk museum untuk full package meliputi Juventus Museum, Virtual Reality dan Juventus Stadium Tour dapat diperoleh dengan harga 35 euro. Harus datang pagi – pagi kalau tidak mau menderita antrian mengular yang sangat panjang. Cukup beruntung karena tiba disini sekitar pukul 10 pagi dan hanya harus mengantri kurang lebih 1 jam untuk dapat membeli tiket.

Harta Tiket Masuk

J Museum

Setelah dapat tiket langsung menuju pintu masuk ke J Museum yang berada di belakang counter tiket. Memasuki lorong dengan ornamen hitam putih khas Juventus di sisi kanan dan kirinya. Tidak jauh disebelah kanan ada sebuah ruangan yang berisi seluruh piala yang pernah dimenangkan oleh Juventus. Mulai dari Piala Serie A liga Italia, Coppa Italia, Piala Super Italia, Piala Champion, Piala UEFA, Piala Winner, hingga Piala Intertoto. Bisa dikatakan ini adalah lemari Piala besar yang ditata sedemikian rupa dengan lemari kaca dan efek lampu yang di set dengan baik. Yang jadi primadona tentu saja thropy Liga Champions Eropa, hampir seluruh pengunjung akan menyempatkan diri untuk berfoto dengan thropy ini.

Lorong Masuk ke J Museum
Piala Champions

Keluar dari ruang trophy beranjak ke ruangan besar yang berisi seluruh sejarah panjang Juventus mulai dari pertama kali didirikan hingga saat ini. Ruangan dibuat jalur sehingga pengunjung dapat mengikuti alur timeline sejarah. Mulai dari Era Combi, Boniperti, Sivori, Capello, Platini, Baggio hingga Del Piero. Ratusan foto dan moment di set sedemikan rupa ditambah beberapa barang milik pemain – pemain legendaris Juventus. Replika Balon D’or yang diterima oleh Zidane dan Nedved juga ada disini. Medali – medali kejuaraan, jersey pemain legendaris hingga beberapa sepatu tua milik legenda Juventus juga turut terpampang.

Salah satu lorong J Museum
Jersey Legenda
Kliping koran berusia hampir 100 tahun
Our President
Koleksi Medali Seri A dalam 6 Musim terakhir

Ruang Video

Satu demi satu setiap sudut terlewati dengan perasaan haru dan bahagia luar biasa. Masih belum percaya kalau bisa benar – benar ada disini. Hal – hal yang dulu hanya bisa dilihat dari layar kaca sekarang benar – benar bisa dilihat langsung. Lebih dari 20 tahun menjadi penggemar Juventus dan berada disini adalah mimpi yang jadi kenyataan.

Di ujung ruangan, ada ruangan oval yang menampilkan pertunjukan video Juventus dan lagu pembuka setiap pertandingan (storia un grande amore). Dinding ruangan yang melingkar dijadikan layar dengan proyektor yang berada di tengah – tengah ruangan. Lantai ruangan di set mirip seperti rumput stadion. Karena kapasitas yang terbatas, jumlah pengunjung yang masuk pun dibatasi dan harus bergantian. Didalamnya tidak ada kursi, pengunjung duduk dibawah rumput bersandar dinding dan menikmati pertunjukkan video yang ada.

Virtual Reality

Virtual reality menjadi salah satu feature yang ditawarkan dalam paket. Setiap pengunjung memperoleh jadwal untuk bisa menikmati VR dan setiap sesie dibatasi hanya untuk 6 – 8 orang pengunjung. Setelah memasuki ruangan yang ditentukan, pengunjung mengenakan sebuah kacamata VR dan instruksi pemakaian dari pemandu. Dalam VR berdurasi kurang lebih 15 menit, pengunjung dibuat seolah – olah berperan menjadi pemain bola professional yang dikontrak oleh Juventus. Mulai dari tandatangan kontrak, jumpa pers, berkenalan dan berbicara dengan Pavel Nedved dan Presiden Andrea Agnelli, hingga melakoni laga debut pertandingan.

VR memberikan sensasi perasaan memasuki stadion sebagai pemain Juventus dengan 50 ribu penonton di stadion. Dalam VR  Kita bisa memandang ke sisi manapun dan benar – benar tampak nyata. Ini pengalaman pertama menggunakan VR dan sangat berkesan. Satu hal yang semakin nyata adalah bahwa bagaimana sepakbola eropa menjadikan olahraga sebagai industri hiburan bagi setiap penggemarnya dan dikelola dengan sangat professional.

Juventus Store dan Tour Allianz Stadium

Jadwal untuk stadium tour baru akan dimulai jam 2 siang nanti. Sambil nunggu, mampir dulu ke Juventus Store buat belanja jersey dan pernak pernik juventus. Juventus Store masih dalam kawasan lingkar stadion dan berada di sisi kanan J Museum. Area toko sangat luas dan terdapat berbagai macam official merchandise yang dijual. Mulai dari Jersey, jaket, sepatu, perlengkapan sepakbola, piring, mug,  pernak-pernik rumah tangga hingga celemek dan baju bayi. Suasana toko sangat nyaman meski ramai pengunjung, mungkin karena plafondnya cukup tinggi. Untuk jersey bisa di custom sesuai keinginan, misal dengan nomor pilihan dan nama sendiri. Sudah ada area khusus dan petugas yang siap untuk membuat sablon nama dan nomor pilihan.

Di depan Juventus Store

Satu buah jersey Paulo Dybala, 2 buah miniatur mobil Jeep, 1 buah topi dan 2 buah syal masuk kedalam keranjang belanja. Harganya ? jangan ditanya, Standar harga official merchandise. Kalau dibilang mahal atau murah itu relatif, cuma kalau dipikir sudah cukup jauh untuk sampai disini, kesempatan belanja barang original di toko resmi dan langsung di negaranya sayang untuk dilewatkan.

Jersey
Bagian dalam J Store

Tepat jam 2 seluruh pengunjung sudah berkumpul di lokasi yang ditentukan. Ada kurang lebih 30 an orang dalam rombongan tour kali ini. Pada pertama perkenalan, pemandu menyampaikan dalam bahasa Inggris tapi saat mulai tour hampir seluruhnya menggunakan bahasa Italia. Sangat disayangkan untuk turis – turis yang tidak paham bahasa Italia pada akhirnya hanya bisa menikmati melihat – lihat tanpa tahu sejarah dan informasi dari ruangan atau benda yang dilihat.

Persiapan Tour Stadion

Club Gianni E Umberto Agnelli

Bagian pertama dari tour adalah pintu masuk utama stadion yang merupakan akses area VIP dan VVIP. Pengunjung langsung dibawa menuju sebuah hall atau lobby mewah mirip restaurant besar dengan meja makan lengkap dengan peralatan makan yang sudah tersedia di atas meja. Ruangan ini bernama Club Gianni E Umberto Agnelli, tempat seluruh tamu istimewa dijamu sebelum pertandingan berlangsung. Dari ruangan ini juga dapat langsung di akses tribun VIP dan VVIP Allianz Stadium.

Pintu Masuk Utama
Club Gianni E Umberto Agnelli
Mewah dan Berkelas

Dari hall pengunjung langsung diarahkan menuju tribun utama, tribun ini merupakan tribun dengan harga tiket yang lebih mahal dibandingkan tribun – tribun lainnya. pengunjung dibebaskan untuk berjalan – jalan menyusuri tribun hingga ke tepi lapangan untuk merasakan sensasi rumput Juventus Stadium. Mengabadikan setiap sudut dan moment menjadi hal yang dilakukan oleh hampir seluruh pengunjung disepanjang sesi tour.

Welcome home
Beautiful Stadium

Puas berkeliling di area pertandingan, perjalanan dilanjutkan menuju ruang pijat dan perawatan pemain sebelum dan sesudah pertandingan. Didalamnya ada meja pijat, kolam jacuzzi, kolam renang kecil dan sebagainya. Dari ruangan ini langsung tersambung dengan ruang ganti pemain sebelum pertandingan. Sayangnya pengunjung hanya bisa menyaksikan dari pintu masuk ruang ganti secara bergantian dan tidak diperkenankan masuk.

Ruang Perawatan
Ruang Ganti Pemain

Dari ruang ganti pemain ada akses lorong yang berhiaskan foto – foto pemain legendaris Juventus di kanan kirinya. Akses lorong ini menuju ruang konfrensi pers yang biasanya dilakukan 1 hari sebelum pertandingan dan setelah pertandingan berlangsung. Tidak jauh dari ruang konfrensi pers ada ruang khusus media yang meliput pertandingan. Ruang media adalah bagian akhir dari keseluruhan tour. Meski tidak banyak lokasi yang dituju tapi tour benar – benar dikemas secara professional dan seluruh pengunjung tampak antusias menikmati setiap sudut stadium.

Pers
Pers room
Deretan Foto menuju ruang konferensi pers

Selesai mengikuti tour langsung kembali ke penginapan untuk makan dan mempersiapkan diri, karena malamnya kembali ke stadion untuk menikmati pertandingan antara Juventus vs Bologna dalam lanjutan seri A liga Italia.

Menonton Pertandingan Langsung di Juventus Stadium

Bagi seorang fans Juventus tidak ada yang lebih membahagiakan selain dapat menyaksikan secara langsung pertandingan Juventus di Juventus Stadium. Sensasi yang dihadirkan benar – benar luar biasa. Suatu fakta bahwa sepakbola di Eropa tidak hanya sebuah pertandingan olahraga tapi juga sebuah industri skala besar yang dikelola sedemikian rupa.

My Ticket

Tiket pertandingan sudah ditangan, untuk masuk ke stadion harus melewati setidaknya 4 titik pemeriksaan. Tidak hanya tiket pertandingan tapi seluruh barang bawaan harus diperiksa. Tidak boleh bawa botol air kemasan, senjata api, bom (apalagi), senjata tajam, spanduk bernada provokasi atau politik dan sebagainya. Untuk pertama kalinya merasakan pemeriksaan begitu ketat dan dilakukan dengan sangat amat professional. Sebelum masuk ke area tribun menyempatkan diri untuk beli air mineral. Air mineral di dalam botol dipindahkan ke dalam gelas kertas oleh penjual, ini salah satu antisipasi tidak ada pelemparan botol minuman ke area lapangan oleh penonton.

Kedai Makanan di Stadion
Kedai Minuman

Seat depan Gawang Buffon

Sempat kebingungan mencari tempat duduk yang dituju karena informasi di tiket menggunakan bahasa itali, setelah bertanya pada beberapa orang akhirnya ketemu juga seat yang dituju. Tidak menyangka karena dapat seat yang benar – benar dekat dengan lapangan, hanya berjarak 5 kursi dari sisi tepi lapangan dan dengan sangat jelas melihat Gianluigi Buffon beraksi di gawangnya. Moment yang sangat luar biasa di sepanjang hidup yang mungkin seumur hidup sekali. Meski berharap suatu saat dapat kembali kesini.

It’s Me

Sebelum pertandingan disajikan musik dan video dengan permainan tata lampu yang keren banget. Sekali lagi, inilah bisnis sepakbola, benar – benar dibuat sebagai industri hiburan. Tidak berapa lama anthem Juve storia Un grande amore berkumandang dan seluruh penonton bernyanyi bersama. Melihat ribuan penonton yang sangat antusias mulai dari pria, wanita, anak – anak, bernyanyi bersama membuat merinding haru dan bahagia. Selesai anthem seluruh pemain masuk ke lapangan satu demi satu dan pertandingan pun dimulai.

So close

Ditengah pertandingan sempat ada kejadian di tribun tempat Saya berada. Tribun kebetulan bersebelahan dengan tribun pendukung fans bologna. Entah karena terkena lemparan atau apa, seorang anak menderita luka dibagian kepala. Jaraknya tidak jauh dari tempat Saya berada. Yang luar biasa adalah petugas medis dan orang – orang sekitar dengan sangat cekatan menangani situasi. Memberikan pertolongan medis hingga anak tersebut kembali menonton pertandingan setelah memperoleh perawatan. Safety dan prosedur tanggap darurat benar – benar dilakukan secara professional.

Buffon

Pertandingan sendiri berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan Juventus. Selesai pertandingan seluruh pengunjung keluar stadion dengan tertib, tertawa gembira, tidak berdesakan dan tidak ada benturan antara pendukung Juventus atau Bologna. Mereka tertawa bersama, minum bir, ngobrol, suasana begitu cair meski saling ejek sepanjang pertandingan. Indonesia harus belajar banyak dalam hal ini.

Hari pertama di Turin memberikan pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup, malam ini memejamkan mata dengan bahagia dan berdoa semoga ada kesempatan untuk berada disini kembali dilain hari.

Turin, 5 Mei 2018

Leave a reply