Trip Eropa (Part 10) : Menemukan Cinta di Venezia

Triphology ( travel blogger) – ” Peristiwa pencurian puluhan batang emas murni yang diduga milik jaringan mafia Italia terjadi di Venezia. Pencurian dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat professional dan disusun dengan skema yang sangat brilian. Kejar – kejaran antara polisi dan pencuri di kanal – kanal Venezia dengan menggunakan perahu pun tidak terelakan. Meskipun pada akhirnya, kelompok pencuri itu berhasil kabur dengan membawa lari emas curiannya “.  Sebuah chapter dari film Italian Job yang dibintangi antara lain oleh Mark Wahlberg, Jason Statham dan Charlize Theron menjadi salah satu motivasi untuk tidak mencoret kota cantik ini dari daftar destinasi yang harus dikunjungi selama di Eropa.

 

Italian Job Movie Poster

 

Flix Bus menjadi partner setia untuk mengantarkan perjalanan panjang selama 11 jam dari Budapest (Hungary) menuju Venice (Italy).  Perjalanan malam untuk kesekian kalinya demi memaksimalkan waktu siang hari dan mengurangi beban biaya penginapan. Sebenarnya tidak terlalu buruk untuk tidur dan beristirahat di Bus karena kondisi Bus di eropa rata – rata cukup nyaman dengan ruang kaki yang cukup besar. Bila beruntung, kerap kali kursi bagian belakang kosong dan bisa dimanfaatkan untuk tidur. Begitu bersihnya bagian dalam bus, bahkan masih bisa cukup nyaman untuk tidur di lantai samping kursi belakang. Seperti yang dilakukan 2 orang turis wanita asal Amerika yang kebetulan satu Bus dalam perjalanan.

 

Flixbus

Venezia Tronchetto

Hanya punya waktu satu hari penuh untuk berada di Venezia sebelum malam nanti berangkat kembali naik bus untuk menuju ke kota Torino. Bisa dibilang ini sekedar transit untuk jaga kondisi mental dan psikologi. Kebayang jika perjalanan dilakukan one shoot dari Budapest ke Torino, maka paling tidak memerlukan waktu lebih dari 15 Jam. Perjalanan jarak jauh tidak hanya menguras energi secara fisik tapi juga secara psikologi karena faktor keletihan dan sebagainya. Itu kenapa mampir di Venezia jadi seperti breaking moment, why not.

Sekitar pukul 10 pagi bus akhirnya Tiba di Venezia (Tronchetto) yang merupakan terminal Bus di Venezia. Dari sini lansung berjalan kaki ke dermaga pelabuhan untuk naik ferry menuju stasiun Santa Lucia. Setiap penumpang harus membeli tiket transportasi lokal atau Venezia City Pass yang tersedia di loket masuk dermaga seharga 20 euro. Tiket ini berlaku untuk transportasi perahu, tram, bus dan kereta selama 1 hari penuh (tidak termasuk gondola). Untuk naik gondola harus membeli tiket lagi.

 

Dermaga Pelabuhan dan Counter Ticket

 

Di Tronchetto tidak ada tempat penitipan tas, jadi mau tidak mau ransel harus tetap dibawa menuju stasiun Santa Lucia. Jika membawa tas dalam ferry sebaiknya jangan digendong, tapi diturunkan dan diangkat agar tidak menggangu penumpang lainnya. kondisi Ferry bisa sangat penuh sesak oleh penumpang. Harus pintar – pintar cari tempat yang terbaik. Berhati – hati juga sama tas dan barang bawaan karena copet mengintai dimana-mana. Jangan letakkan dompet di saku celana, lebih baik amankan di dalam tas dan peluk erat tasnya dibagian depan, jangan digendong ke belakang.

Santa Lucia dan Penne Tomato

Hanya butuh waktu 15 menit dengan ferry untuk menuju Santa Lucia. Setiba di stasiun langsung mencari tempat penitipan tas. Disini tidak ada loker coin yang ada hanya tempat penitipan tas biasa dan harganya bisa dibilang cukup mahal bila dibandingkan dengan loker coin. Untuk menyimpan sebuah ransel dikenakan biaya 10 euro atau atau kurang lebih 170 ribu rupiah untuk durasi selama 1 hari penuh. Tas harus diambil sebelum jam 9 malam, jika tidak maka baru bisa diambil keesokan harinya dan pastinya kena denda.

 

 

Dari stasiun Santa Lucia langsung cari tempat makan buat sarapan. Berjalan kaki sepanjang jalan Rio Tera Lista Spagna hingga akhirnya menemukan Quanto Basta. Sebuah restoran pizza dan kebab yang menyajikan pizza dan pasta halal dalam menunya. Sepiring Penne Tomato menghilangkan rasa penasaran untuk menikmati hidangan pasta di tanah kelahirannya, Italia. Mamma mia.

 

Penne Tomato

 

Makan pasta di Italia jelas berbeda sensasinya meski dari segi rasa benar – benar sangat bergantung selera. Untuk Saya sendiri ini lebih dari cukup dan sangat enak. Kalau pasta di Indonesia, bukan tidak enak, tetap enak, tapi bukan karena citarasa tapi lebih karena familiar test. Rasa pastanya sudah dibuat sedemikian rupa untuk lidah orang Indonesia. Sedangkan di Italia benar – benar memberikan rasa pasta yang berbeda.

 

Jalan di Venezia

 

San Geremia

Ponte delle Guglie

Selesai makan kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalan yang sama hingga melewati Gereja Katolik Chiesa San Geremia hingga tiba di Ponte delle Guglie. Sebuah jembatan yang menjadi obyek pertama melihat perahu dan gondola melaju di kanal – kanal Venezia. Disekitaran Ponte delle Guglie ada banyak penjual ikan segar dan seafood yang berjajar sepanjang tepi kanal.

 

Ponte Delle Glugie

 

Berjalan – jalan di jembatan, kanal dan gang demi gang sempit di Venesia menjadi hal yang menarik untuk dilakukan. Terlebih lagi cukup ramai oleh pelancong dari berbagai negara. Melihat kehidupan warga sekitar berinteraksi dengan turis yang entah dari mana jadi pemandangan yang lazim ditemukan. Disini juga bisa ditemukan penjual tas – tas KW dari brand – brand terkemuka seperti dolce gabbana, dior dan sebagainya. Toko souvenir ataupun pedagang kaki lima yang berjualan souvenir bertebaran dimana – mana dengan harga yang cukup murah, Jika pintar menawar bukan tidak mungkin dapat harga yang sangat miring.

 

Pedagang Seafood Di Venezia

 

Naik Gondola bisa dari sini..

 

Salah satu kanal di Venezia

 

Romantisme yang ditawarkan

 

Waktunya shalat Jum’at hampir tiba. Tidak ada masjid di distrik Cannaregio. Masjid terdekat harus ditempuh dengan Bus dari Fermata Venezia yang berada di Piazzale Roma. Naik ferry dari dermaga terdekat langsung menuju ke dermaga P.le Roma. Tidak jauh dari dermaga naik bus untuk menuju masjid yang alamatnya diperoleh dari aplikasi. Seperti biasa, bukan bangunan masjid yang ditemukan tapi sebuah ruko kecil milik komunitas muslim Bangladesh yang ada di Venezia. Awal datang masih kosong dan segera penuh saat mendekati waktu sholat. Kondisi yang awalnya cukup nyaman menjadi berhimpitan satu sama lain. Hampir semua jamaah masjid adalah imigran asal Bangladesh dan Pakistan yang bekerja di Venezia.

Piazza San Marco

Selesai shalat segera kembali dengan menaiki bus yang sama menuju ke Fermata Venezia dan lanjut naik Ferry dari dermaga P.le Roma. Tujuan kali ini adalah menuju ke lapangan St. Marco yang merupakan area publik yang menjadi destinasi utama di Venezia. Dari dermaga P.le Roma naik ferry F dan turun di Rialto Mercato untuk kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Piazza San Marco.

 

Piazza San Marco

 

Salah Satu Menara di Piazza San Marco

 

Piazza San Marco

 

Piazza San Marco atau kalau orang Indonesia bilang lapangan atau alun – alun San Marko merupakan tempat yang telah berabad-abad lamanya menjadi pusat kota dan kegiatan dari kota Venezia. Semua turis dari berbagai negara yang berkunjung ke Venezia pasti akan datang ke tempat ini. Di lokasi ini ada beberapa bangunan yang mengelilingi termasuk deretan cafe – cafe dan toko – toko yang menjual souvenir khas Venezia. Di Piazza San Marco pengunjung juga akan menemukan banyak merpati dan burung – burung laut terbang bebas di atasnya. Jangan memberi makan merpati karena merupakan perbuatan yang illegal saat ini.

 

Merpati tak pernah ingkar janji

 

Berhati-hati juga ketika menikmati lapangan ini sambil ngemil atau makan kebab, karena bisa saja tiba-tiba ada burung yang menyambar makanan dan terbang melarikan diri.  Disini juga terdapat Jam Saint Mark dan Grand Canal yang merupakan area tempat untuk menambatkan gondola – gondala untuk disewakan ke turis.

San Marco dikelilingi bangunan seperti Istana Doge yang merupakan tempat penguasa Venezia tinggal. Ada juga Basilica San Marco, Procuratie Nouvo yang saat ini menjadi museum, perpustakaan St. Marcus dan berbagai patung yang salah satunya adalah patung singa bersayap yang merupakan lambang dari kota Venezia.

 

Singa Bersayap

Grand Canal

Cukup lama berada di Piazza San Marco sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan berjalan kaki menelusuri tiap gang sempit dan kanal – kanal yang ada. Melewati hotel mewah Danielli, Regina dan tempat – tempat menarik sepanjang sisi Gran Canal yang merupakan Canal utama dari Venezia. Hingga tiba di jembatan Ponte Dell’Academia yang menghubungkan antara Monumen Santo Stefano dengan Gallerie dell’Academia.

Grand Canal merupakan Kanal besar berbentuk huruf S yang membagi wilayah Venesia menjadi dua bagian mulai dari Santa Lucia hingga San Marco sepanjang 3.8 km dan lebar 30 sampai dengan 90 meter. Sepanjang Grand Canal ada lebih dari 170 bangunan yang sebagian besar merupakan peninggalan dari abad ke 13 hingga abad ke 18. Pada awalnya hingga abad ke 19 hanya satu jembatan yang melewati Grand Canal yaitu Jembatan Rialto. Seiring perkembangan dan kebutuhan ada penambahan 3 jembatan lainnya yaitu ; Ponte Degli Scalzi, Ponte Dell’Academia dan Ponte Della Costituzione. Nama terakhir di design oleh Santiago Calatrava dan menghubungkan antara Saint Lucia ke Piazzale Roma yang merupakan lokasi Fermata Venezia.

 

Grand Canal di waktu malam

 

Cuaca semakin mendung dan saat sedang mencari makan malam tiba – tiba hujan turun. Untungnya sudah dengan Quanto Basta, tempat sarapan tadi pagi. Sambil menunggu hujan reda, sekalian makan malam. Sore ini memesan Pizza Seafood dan secangkir sloki cappucino untuk menemani hingga hujan reda. Tidak ada yang lebih nikmat selain menikmati Pizza Italy yang tipis dengan keju mozarella yang lengket dan seafood segar sebagai topping.

 

Pizza Seafood

 

Cappucino

Love In Venezia

Tidak berapa lama hujan mulai reda. Untuk menghabiskan sisa waktu, opsi berkeliling grand canal dengan ferry  sambil menikmati Matahari terbenam menjadi pilihan. Cukup takjub ketika ada kapal pesiar yang sangat besar lewat mendekati grand canal. Saat matahari mulai terbenam, bangunan – bangunan di sepanjang jalur mulai bermandikan cahaya lampu jingga yang membuat kota ini semakin cantik dan suasana semakin romantis.

 

Kapal Pesiar

 

Bagi banyak pasangan di dunia, dapat berbulan madu atau pergi dengan kekasih tercinta ke Venezia adalah mimpi. Berdua naik gondola, menyusuri canal – canal kecil, makan malam romantis di caffe tepi canal dan menginap di hotel mewah sekelas Danielli, mungkin tidak ada yang menolak jika dapat kesempatan itu. Tidak salah memang jika banyak orang bilang, JIka Paris itu romantis, Praha itu eksotis maka Venezia adalah cinta. Begitu banyak cinta yang terjadi sepanjang hari ini.

 

Sunset di Grand Canal

 

Temaram

 

Pizza dibuat dengan citarasa dan cinta, gondola mengajak pasangan dan keluarga berkeliling dengan penuh senyuman cinta dan yang paling pamungkas adalah bagaimana satu cangkir kecil kopi bahkan sangat amat kecil untuk ukuran orang Indonesia dapat memberikan rasa cinta dalam setiap tegukannya. That’s it Venezia.

 

Love In Venezia

 

Puas berkeliling hari ini dan saatnya kembali ke Santa Lucia untuk mengambil koper sekaligus print tiket pertandingan Juventus vs  Bologna. Pertandingan yang akan ditonton nanti saat tiba di Torino. Di Stasiun Santa Lucia juga ada beberapa toko pakaian dan souvenir yang bisa jadi buah tangan untuk dibawa buat orang – orang terkasih.  Dari Santa Lucia langsung kembali ke Tronchetto untuk naik bus menuju Torino. Bus baru akan tiba pukul 12 malam dan dijadwalkan tiba di Torino pada pukul 7 pagi nanti.

 

Tiket Pertandingan

 

Sudah tidak sabar untuk segera tiba di Torino. Bagi pendukung Juventus, pergi ke Torino dan Juventus Stadium adalah “umroh” kedua. At Least sekali seumur hidup harus bisa merasakan atmosfer pertandingan disana.

Grazie Venezia.. and see you again.

Venezia, 4 Mei 2018

Leave a reply