Dieng : Negeri Di Atas Awan

Triphology (travel blogger) – Bisa dibilang ini salah satu perjalanan paling nekad yang pernah dilakuin. Kebetulan lagi kerja di Jogja dan lewatin weekend, otak langsung muter cari destinasi mau kemana dan entah kenapa langsung kepikiran Dieng. iyaa… “Dataran Tinggi Dieng”. Saya sama sekali belum pernah ke sana, jadi yaa kenapa ga. Berbekal ngomporin temen kerja dan minjem motor orang, jadilah Kita berdua berangkat ke Dieng naik motor. Dan disinilah cerita menegangkan dimulai. Sekedar informasi Kami berdua sama-sama buta rute Jogja – Wonosobo-Dieng, bener – bener nekad.

Perjalanan Nekad

Karena kelamaan mikir mau kemana, kami berangkat pas matahari udah di ubun-ubun lewat dikit, sekitar jam 1-an.  Estimasi perjalanan sekitar 4 – 5 Jam, dan motor pun mulai di gas buat berangkat ke Dieng lewat jalur Jogja, Temanggung, Wonosobo, Dieng. Sampai di Temanggung mulai merasakan akibat kenekadan yang pertama. Karena gak tau rutenya kayak apa, pakaian buat perjalanan pun apa adanya, jaket bola tipis, celana jins, sama sendal jepit, dan pas di Temanggung.. brrrr udara udah mulai dingin, ini akibat ga pernah nyimak pelajaran geografi jadi lupa kalau Temanggung itu berada di lembah antara gunung Sindoro dan gunung sumbing, alhasil naik motor sambil kedinginan.

Jalur Jogja – Dieng melewati Temanggung jalurnya cukup bagus buat naik motor, jalannya mulus, berkelok naik turun khas pegunungan. Saat melewati Temanggung akan terlihat banyak perkebunan tembakau, bau tembakau pun dimana mana, di kanan dan kiri terlihat gunung sumbing dan sindoro berdiri gagah dengan sombongnya serasa memanggil minta didaki (hmmm next trip nih…)..

Source : Temanggung – Kompasiana (maaf tidak sempat foto)

Tragedi Motor Mogok

1,5 jam perjalanan sebelum Wonosobo petaka dimulai, tiba – tiba motor mati dan ga mau nyala lagi, di tengah persawahan dan menjelang magrib. Dengan penuh kebingungan coba untuk dikutak katik, semua diperiksa mulai dari bensin, aki, busi dan ga nemu juga masalah kenapa motor mati. Akhirnya Kami pun berjalan kaki mendorong si motor berharap menemukan bengkel yang masih buka, hhhh mungkin motornya lelah.

Lama jalan kaki gak nemu juga bengkel, perasaan panik mulai muncul bikin otak ga bisa mikir buat cari solusi masalah. Kita pun akhirnya pilih mampir makan di warung soto sambil numpang shalat maghrib. Selesai shalat dapat solusi, opsi pertama cari masjid dan numpang nginap sampai besok pagi buat cari bengkel atau opsi kedua tetap jalan kaki, sambil berharap nemu bengkel yang buka malam. Dan dasar orang nekad, Kami pun pilih opsi yang kedua.

Ga lama Jalan, ada bengkel yang nyaris tutup,, sudah tutup malah, tapi pemiliknya masih ada dan baru mau keluar. Kami pun minta tolong buat benerin motor. Setelah diperiksa ternyata…. taraaaaa…. oli motornya habis alias tidak ada. Loh kok bisa ? menurut montirnya ada part yang bocor sehingga membuat oli nya terbakar pada saat proses pembakaran di mesin motor, karena bocornya kecil jadi tidak kelihatan, dan tau – tau abis aja.. Solusi sementara di isi ulang Oli motornya, dan tidak berapa lama motorpun menyala kembali. Alhamdulillah.

Source : Mbah Google (maaf lupa foto)

Dinginnya Wonosobo

Dipikir – pikir daripada harus balik ke Jogja lagi yang waktu tempuhnya sama, Kami pun tetep nekad dengan motor yang setengah sehat terus berangkat ke Dieng. Sekitar Jam 8 Malam Kami tiba di Wonosobo, kebetulan ada teman di Wonosobo. Kami pun mampir ke rumahnya sambil istirahat sejenak. Udara Wonosobo dinginnya luar biasa, begitu dinginnya kopi panas yang baru disajikan kurang dari 5 menit berubah menjadi es Kopi… weleeh.

Pamit dari rumah teman jam 10 Malam, Kami lanjut meneruskan perjalanan ke Dieng. Masih butuh waktu 1 Jam untuk bisa tiba di Dieng. Karena bukan hari libur besar, jalan menuju Dieng sangat sepi dan gelap, untungnya malam itu bulan Purnama sehingga jalanan cukup terang karena cahaya bulan. Pemandangan kanan kiri begitu luar biasa. Bukit diwaktu malam disinari cahaya bulan yang masuk disela-sela pepohonan dan ga ketinggalan udara yang semakin ke atas semakin dingin, sangat amat dingin.

Semakin mendekati Dieng, suhu udara benar – benar ga bersahabat. Tangan dan kaki mulai terasa kaku. Untuk menarik tuas gas atau rem pun sudah mulai terasa nyeri. Sampai di pertigaan antara Jl. Dieng dan Jl. Telaga Warna, Kami pun menyerah dan berhenti untuk cari kupluk, sarung tangan, kaos kaki dan apapun yang bisa bantu menghangatkan badan. Perjalanan belum selesai masih ada sekitar 30 menit untuk tiba di tujuan akhir yaitu Desa Sembungan di daerah sikunir yang merupakan Desa tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 2306 mdpl.

Desa Sembungan

akhirnya Kami tiba di pintu masuk Desa Sembungan, ada beberapa orang pemuda yang menyambut dan menyodorkan tiket beserta bea masuk ke Desa. Salah seorang dari mereka menawarkan jasa penginapan dan setelah deal harga 200 ribu untuk satu malam Kami pun diantar menuju penginapan. Penginapan di Sembungan sebagian besar adalah rumah warga yang disewakan. Biasanya pemiliknya juga tinggal di salah satu kamar di penginapan tersebut. Alhamdulillah pemilik penginapan orangnya sangat baik dan ternyata yang menawarkan Kami penginapan adalah calo penginapan di sembungan, dari biaya 200 ribu yang di sepakati, hanya 100 ribu yang masuk ke penginapan, hmmmm kasihan pemiliknya.

Kalau ini ga dari google, ini asli saya lagi kedinginan

Malam itu Kami coba untuk beristirahat tidur selama 3 jam. Rencananya jam 3 dinihari sudah harus beranjak bangun menuju ke puncak sikunir untuk melihat golden sunrise. Diatas nanti akan terlihat pemandangan matahari menyembul dari cakrawala dan menyinari 4 gunung, prau, merapi, sindoro dan sumbing. Tapi seberapa keraspun Kami coba buat memejamkan mata, Udara dingin yang menusuk ke tulang benar – benar tidak mampu kami lawan. Jam 3 pun akhirnya tiba tanpa memberi Kami kesempatan buat tidur.

Mendaki Puncak Sikunir

Keluar dari penginapan, Kami pikir sepi ternyata sudah ramai orang berjalan kaki menuju puncak. Kami dianjurkan memakai masker, karena sedang musim kemarau. Jalur pendakian tanahnya kering dan debu akan berterbangan saat dilewati ratusan orang yang naik ke atas. Butuh stamina yang cukup untuk menaiki jalur pendakian sepanjang 800 meter. Saran Saya jangan lupa untuk membawa bekal air minum. Beberapa kali ada kejadian pengunjung pingsan karena keletihan atau karena memang tidak siap secara stamina. Setelah 1 jam mendaki (lama) karena beberapa titik benar – benar seperti antri di loket kereta api musim lebaran. Akhirnya Kami tiba di puncak sikunir dan mencari spot buat menikmati moment golden sunrise.

Cakrawala Merona

Pemandangan gunung dari puncak sikunir

Waktupun berlalu dan perlahan cakrawala langit berubah warna menjadi jingga, makin lama makin merona dan sang surya pun keluar dari persembunyiannya. Terlihat 4 gunung berdiri kokok diselimuti awan pagi yang melewati puncak gunung, hhmmm benar – benar serasa negeri diatas awan. Subhanallah, benar kata orang bahwa Tuhan menciptakan negeri ini saat sedang tersenyum. Sebuah pemandangan yang sulit untuk digambarkan lewat bahasa dan kata.

Itu orang yaa bukan pohon meski sama-sama hitam

Ironi Waktu

karena waktu cepat berlalu, Kami pun bergegas untuk segera cari tempat untuk shalat subuh. awalnya bingung mau wudhu pakai apa, karena air di botol sudah habis. Pilihannya tayamum atau pakai embun yang di rerumputan. Selesai wudhu dengan embun, Kami pun Shalat Subuh. Ada yang cukup ironi sebenarnya, tidak banyak Kami lihat pengunjung yang shalat subuh. Dapat dihitung dengan jari bahkan hingga menjelang siang ketika Kami turun dari Sikunir. Di satu sisi Kita bersusah payah naik ke atas untuk melihat keindahan dan mensyukuri karya agung Sang Pencipta, tapi disisi lain Kita mengabaikan seruanNya. yaa… ini pilihan hidup,, tapi buat Saya itu Ironi.

sangat indah

Telaga Cebong

Foto dulu lah.. nandain…

Selesai Shalat Kami langsung segera turun untuk melihat silver sunrise dari telaga cebong. Sebuah danau di lembah sikunir. Silver sunrise adalah saat matahari terbit dari sela – sela 2 buah bukit yang ada di sikunir dan Silver Sunrise pagi ini benar – benar hangat. Kami mampir ke warung sekitaran telaga, menikmati nasi goreng ala kadarnya dan secangkir kopi hangat di campur dengan purwaceng untuk mengembalikan stamina yang hilang. Tidak lama Kami pun kembali ke Penginapan untuk tidur. Mungkin pagi ini akan jauh lebih hangat untuk tidur.

Jam 10 siang Kami check out dari penginapan. Rencananya mau ke beberapa titik destinasi wisata di kawasan dieng, seperti dieng plateu dan candi arjuna. Kami pun Pamit dengan yang punya rumah dan ini kenapa Saya bilang yang punya rumah sangat baik, Kami dikasih cabe Dieng 2 Kg dan carica (pepaya khas dieng) sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang,, waduh matur suwun pa’e.

Leave a reply