Surga Tersembunyi di Pulau Weh – Aceh

Triphology (travel blogger) – Enaknya jadi auditor di perusahaan yang kantor cabangnya banyak adalah bisa punya kesempatan untuk berkunjung ke banyak kota di Indonesia. Seperti kali ini, untuk pertama kali menjejakkan kaki di bumi serambi Mekkah alias Nanggroe Aceh Darussalam. Kesempatan ini pun gak akan disia-siakan. Semua kerjaan coba diberesin lebih awal (meski harus tidur lebih malam) dan berharap pas weekend sudah gak ada lagi pekerjaan yang harus dilakukan.

Nangroe Aceh Darussalam

Ada beberapa tempat yang mau dikunjungi selama di Aceh. Selain menikmati Mie Aceh, Kopi Aceh, Nasi Goreng Aceh ( loh kuliner semua ), keliling kota Aceh, Masjid Baiturrahman dan tentu saja Museum Tsunami Aceh. Tapi yang paling ditunggu dari semuanya adalah perjalanan ke ujung Indonesia, apalagi kalau bukan ke Sabang yang terletak di Pulau Weh, titik 0 km Indonesia. So,, let’s start the journey.

Masjid Baiturrahman – Banda Aceh

Dari pagi udah siap-siap berangkat dari Hotel menuju pelabuhan Ulee Lheue dan kebetulan diantar oleh seorang teman yang orang Aceh. Jika berangkat dari bandara Iskandar Muda ke pelabuhan Ulee Lheue, Kita bisa menggunakan transportasi taksi,  damri, becak motor atau labi – labi (kendaraan khas Aceh). Tentu saja tarif keempat kendaraan tersebut beda – beda. Untuk cari becak motor atau labi – labi gak bisa dari depan bandara harus jalan kaki keluar dari komplek bandara.

Pelabuhan Ulee Lheueu (Comot dari Google)

Untuk menuju Pulau Weh ada 2 alternatif pilihan, pakai speed boat atau dengan menggunakan kapal ferry. Dengan kapal ferry waktu tempuh perjalanan sekitar 2 jam sedangkan dengan speedboat dapat ditempuh selama 45 menit. Harga berkisar mulai dari 25 ribu – 100 ribu rupiah, kelas di dalam kapal pun beda-beda ada yang ekonomi dan ada yang bisnis/eksekutif/VIP. 

Suasana dalam speed boat

Pelabuhan Balohan dan Indahnya Sabang

Tiba di pelabuhan balohan, sudah ditunggu oleh driver mobil rental yang telah dipesan beberapa hari sebelumnya. Tarif 500 ribu disepakati untuk mengantar selama 2 hari 1 malam dengan titik akhir diantarkan kembali ke Pelabuhan Balohan. Dari pelabuhan, langsung berangkat menuju ke titik 0 Km dengan waktu tempuh kurang lebih selama 1 Jam. Sepanjang rute, disuguhi jalan raya mulus dengan pepohonan hijau hampir disepanjang jalan. Sesekali terlihat kera atau monyet liar bergelantungan di dahan – dahan pohon.

30 menit perjalanan, mobil berhenti di salah satu spot foto yang sering kali dikunjungi wisatawan untuk berfoto dengan latar belakang laut pulau Weh. Di lokasi ini ada semacam menara atau bukit yang agak tinggi untuk mengambil gambar. Gak ketinggalan tulisan I love Sabang yang cukup besar sebagai latar belakang foto.

I Love Sabang

Menara Pandang

Finally, sampai juga di tugu 0 Km Sabang. Sayang kondisinya memprihatinkan, banyak sisa – sisa vandalisme dimana – mana. Karena sedang di renovasi, pengunjung cuma bisa foto-foto di tulisan 0 Km Indonesia dan gak bisa masuk ke dalam tugu. Semangkok mie rebus, rujak aceh dan kelapa muda jadi teman istirahat sejenak di kawasan tugu 0 Km. Kadang ada monyet – monyet liar yang mengganggu keasyikan makan. 

 

Km 0 Indonesia

Pantai Iboih

Pantai Iboih bisa ditempuh kurang lebih 15 menit dari tugu 0 Km. Gak membutuhkan waktu lama untuk tiba di lokasi. Yang pertama dilakukan adalah mencari penyedia jasa paket snorkling yang cukup banyak ada disana. Paket yang ditawarkan meliputi peralatan snorkling lengkap, boat kayu untuk PP ke pulau Rubiah, tour guide dan foto underwater. Untuk harga relatif beragam, buat lima orang kurang lebih menghabiskan 500 ribu rupiah.

Setelah berganti baju, langsung berangkat ke spot snorkling dan…..… hamping gak bisa  digambarkan betapa indahnya pemandangan dan pengalaman yang tersaji di depan mata. Main dengan ikan yang sangat banyak dan beragam, punya sensasi tersendiri. Seharusnya Kita bersyukur punya tanah air yang luar biasa kaya akan biota laut. Sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk menjaga kelestariannya, agar anak cucu nanti bisa menikmati keindahan serupa.

Puas bersnorkling di titik pertama, saatnya berpindah ke titik lain untuk mengejar Ikan Nemo yang infonya hanya ada di beberapa titik tertentu. Karena sudah terlalu menggigil kedinginan (anginnya kencang), Saya memilih untuk ga ikut mengejar “sang nemo” dan istirahat di warung.

Pantai Iboih

Pulau Rubiah

Penginapan di Pulau Weh

Hari sudah semakin sore, aktifitas hari ini ditutup dengan makan mie rebus di tepi pantai ditemani angin laut yang berhembus kencang dan pemandangan matahari terbenam. Selesai ganti pakaian dan mengembalikan perlengkapan yang disewa, kembali berangkat menuju kota Sabang untuk mencari penginapan (Karena belum booking sebelumnya). Setelah berpindah dari satu penginapan ke penginapan akhirnya dapat juga penginapan murah dengan rate 200 ribu satu kamar untuk 2 orang (maklum budget terbatas). Diperjalanan sempat mampir menikmati kuliner Khas Sabang, Sate Gurita.  Makan ditepi pantai dengan suasana deburan ombak yang sedang pasang ditambah lagi hujan turun itu “luar biasa”..

Menikmati Sajian Sate Gurita

Tiba di hotel sudah larut malam dan langsung beristirahat karena besok pagi-pagi sekali sudah dijemput oleh Driver Rental yang akan mengantar ke Pelabuhan Balohan untuk kembali ke kota Aceh menggunakan speed boat dengan jadwal jam 8 pagi.

Terimakasih Aceh dan Sabang untuk alam-mu yang luar biasa…  Nanggroe Atjeh Darussalam

Leave a reply