Trip Eropa (part 1) Etihad Airways – Antara Abu Dhabi dan Paris

Triphology (travel blogger) – Setelah penantian panjang sekian belas tahun pada akhirnya mimpi untuk menjejakkan kaki di bumi eropa pun terwujud dan Rabu, 25 April 2018 menjadi salah satu hari paling bersejarah. Etihad Airways terbang membawa Saya menempuh jarak lebih dari 15.000 km dengan waktu tempuh total selama kurang lebih 15 Jam dari Jakarta menuju Paris. Tentu saja setelah sebelumnya Saya sudah berjibaku dengan proses pengurusan visa schengen yang penuh drama, baca disini.

Paris menjadi gerbang petualangan Saya di Eropa selama 17 hari kedepan. Paris the heart of europe, tampat yang konon katanya penuh dengan romantisme, seni dan kuliner terbaik di dunia.

First Impression Etihad Airways

Untuk kali pertama juga naik Etihad Airways. Maklum selama ini lebih sering berkutat di dalam negeri, jadi tidak pernah naik pesawat sebesar  ini. Airbus A330-300 pesawat berbadan besar keluaran Airbus menjadi kendaraan Saya menuju Abu Dhabi (UEA) untuk kemudian transit dan berganti pesawat dengan Boeing 777-300ER dari Abu Dhabi menuju Paris.

 

Waktu boarding Etihad 1 Jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Pesawat sedianya berjadwal jam 17.55 tapi seluruh penumpang sudah dapat boarding sekitar Pkl.16.55 dan tepat terbang Jam 17.55. Saya kasih 4 Jempol buat Etihad untuk ketepatan waktu.

Pesawat berkapasitas 250 orang ini terisi penuh untuk membawa penumpang dari Jakarta menuju Abu Dhabi (UEA).  First impression masuk ke pesawat Etihad, keren. Meski tidak sebagus pesawat Singapore Airlines dari sisi first impression,  tapi menurut Saya ini sudah sangat bagus.

Kecantikan Pramugari dan Makanan

Pramugari Etihad multietnis, ada arab, campuran arab, china, jepang, dan ada campuran afrika. Bisa dibilang ini benar – benar merepresentatifkan Uni Emirat Arab atau orang lebih kenal orang dengan kota Dubai-nya, sebagai salah satu negara di kawasan arab yang menerima lintas multi kultural dan mordernitas barat sebagai suatu bagian dari proses pengembangan negaranya meski mayoritas penduduknya adalah muslim.

Selama kurang lebih 8 jam perjalanan menuju Abu Dhabi seluruh penumpang diberikan 1 kali makan berat dan 2 kali snack. Untuk makanan, bisa dikatakan standart makan di pesawat, urusan enak atau tidak enak itu selera. Kalau buat Saya pribadi yang punya lidah makanan rumahan, makanan di pesawat jelas tidak cukup enak tapi ya tetap dimakan, daripada kelaparan. Nasi, Gulai Ayam, dan Sawi menjadi menu Saya malam ini. Untuk minum pada saat snack pertama Saya minta jus apel dan saat makan berat Saya coba minta jus tomat. Hasilnya ? hmm buat yang suka tomat campur garam, boleh silahkan dicoba, tapi garamnya kayak mitos anak perempuan minta kawin, asinnya luar biasa. kira-kira rasanya seperti itu. Mungkin Saya yang norak kali ya.

Makan Malam Pesawat

Transit Time and Flight To Paris

Sekitar Jam 10 Malam waktu UEA, pesawat mendarat di Bandara International Abu Dhabi. Waktu transit sekitar 3 jam Saya manfaatkan untuk Shalat Magrib dan Isya setelah itu langsung menuju ruang tunggu di gate yang telah ditentukan. Sama seperti penerbangan dari Jakarta, kali ini pun jadwal sangat on time. Tepat di jam yang telah dijadwalkan seluruh penumpang sudah diarahkan untuk boarding ke dalam pesawat.

Papan Petunjuk Bandara

 

Suasana International Transit Terminal

Perjalanan Abu Dhabi menuju Paris ditempuh dalam waktu kurang lebih 6,5 jam, kali ini menggunakan pesawat keluaran boeing seri 777. Untuk fasilitas pesawat, boeing 777 jauh lebih baik dibanding Aibus A330, termasuk menu hiburan yang ada di monitor yang cukup beragam. Untuk frekuensi makanan masih sama, Saya dapat 2 kali snack dan 1 Kali makan berat. Menu sarapan Saya menuju Paris adalah omelet telur, sosis ayam, kentang goreng dan beberapa irisan buah serta kelengkapan lainnya. Dari segi rasa ini cukup enak.

Sarapan Pagi

BIENVENUE PARIS……!!

Sekitar Jam 08.20 pesawat yang Saya tumpangi mendarat dengan mulus di bandara Roissy Charles de Gaulle (Paris), ada perasaan haru dan senang luar biasa ketika turun dari tangga pesawat dan menjejakkan kaki di tanah Paris. Waaa.. Paris… Eropa. Suatu hal yang Saya tidak pernah bayangkan akan terwujud meski dalam mimpi sekalipun.

Roissy Charles De Gaulle

Saya ingat sekitar 8 tahun lalu ada kenalan Saya memasang fotonya di Monpartnasse dengan latar belakang Eiffel pada account sosmed-nya. Saya bilang ke Dia, fotonya keren, beruntung banget bisa ke Paris (mungkin gak beruntung juga sih, maklum suaminya salah seorang penguasaha sukses di Indonesia). Dia serta merta bilang ke Saya, gak usah gitu li.. Saya yakin suatu saat Kamu akan ke sana. Saat itu Saya hanya mengiyakan saja, dalam hati mana mungkin penghasilan 1 juta perbulan bisa ke Paris. But God Always Listening Alwas Understanding. I’m Here Now… 

Numpang yaa

 

Sayangnya sudah lost contact. kalau  masih bisa ngomong mungkin Saya akan kasih tau kalau apa yang dikatakan 8 tahun lalu pada akhirnya jadi kenyataan. (Makasih buat Ibu yang ada di Berau, makasih doanya, Sukses selalu buat Ibu dan Keluarga).

Next Chapter : Paris

Leave a reply