Berburu Visa Schengen Eropa

Triphology (travel blogger) – Mendengar kata visa schengen yang terbayang di benak kita adalah proses pengajuan yang sulit, badan gemetar, malam tidak bisa tidur, panas dingin, jantung berdegup kencang dan sebagainya. Mungkin “rasa” nya baru bisa dikalahkan oleh rasa menunggu jawaban setelah menyatakan cinta ke seorang gadis. Berlebihan ? menurut Saya tidak. Coba bayangkan, bagaimana bisa tidur kalau yang terbayang adalah permohonan visa schengen ditolak dan uang tiket pesawat ke Eropa hangus karena tiket promo dan tidak bisa di refund. Buat yang belum tau Visa Schengen, ini adalah “visa sakti” yang dapat memudahkan Kita untuk mengakses 28 negara di Eropa.

The Light Of Europe

Antara Antusiasme, Kehilangan Tabungan dan Fanatisme

Berbekal cita – cita yang terpendam sebagai penggemar klub sepakbola Juventus,  akhirnya dinekadkan juga untuk berangkat ke eropa. Apalagi setelah tahu kalau Juventus masuk Final Coppa Italia di Roma. Semangat berangkat pun makin menggebu. Dengan segala ketidakrelaan mengeluarkan tabungan dan beberapa barang yang harus di jual buat nutup cost, akhirnya benar – benar diputuskan untuk berangkat.

25 Tahun lebih jadi Juventini dan bagi seorang fans Juventus, berkunjung ke Turin (Kota tempat Juventus berasal) adalah seperti perjalanan ritual ibadah yang paling tidak harus dilakukan sekali seumur hidup. Bagi sebagian orang ke Eropa mungkin hal biasa, tapi bagi orang kebanyakan seperti Saya yang penghasilan pas-pas-an dan tidak menentu, bisa nabung dan pergi ke Eropa itu adalah dreams come true. Hmm penghasilan pas-pas an kok sok gaya-gayaan ke Eropa, bukan gaya tapi faith. hehehe.. 

Karena sudah kadung ke Eropa, sekalian saja Saya berkunjung ke beberapa negara sekaligus (pikir Saya). Tujuan utama adalah ke kota Turin (ke Juventus Museum) dan nonton pertandingan Coppa Italia di Roma Italia, tapi Saya memilih untuk berangkat dari Jakarta menuju Paris. Kenapa Paris ? tidak direncanakan sebenarnya pas kebetulan dapat tiket lebih murah aja. Tapi Paris adalah heart of europe, paris yaa paris. Semua pasti setuju bahwa tidak akan lengkap rasanya ke Eropa tanpa melihat menara besi menjulang karya Gustave Eiffel ini.

Gustave Eiffel Master Piece

Make a Plan

Rencana dibuat, hunting tiket dilakukan mulai dari tiket pertandingan dan tentu saja tiket pesawat.  Finally,  dapat tiket pesawat promo NON REFUND Jakarta – Paris (transit Abu Dhabi) dan Roma – Jakarta (transit Abu Dhabi) dengan menggunakan maskapai Etihad Airways yang ditebus dengan harga 10,2 juta rupiah. Kalau naik Thai Airways atau Qatar Airways mungkin akan lebih murah sekitar 1 – 1,5 juta apalagi kalau bisa beli jauh – jauh hari, selisih harga bisa sampai 2 – 3 juta tapi tidak mendarat lewat Paris. Biasanya lewat Zurich, Frankfurt atau Munich. 

Dikarenakan mendakak dan memang tujuan utamanya adalah nonton final sepakbola yang kepastian pesertanya baru didapat sebulan yang lalu, tidak ada pilihan selain membeli tiket yang tersedia. Untuk ukuran kondisi mendadak, harga ini sudah cukup murah menurut Saya. Apalagi maskapainya Etihad, cukup whorted. 

Untuk 15 hari backpack ke Eropa Saya berencana mengunjungi 8 kota, yaitu Paris (Perancis), Munich (Jerman), Praha (Ceko), Wina (Austria), Budapest (Hungaria), Milan (Italia), Turin (Italia), Pisa (Italia) dan berakhir di Roma (Italia).  Keberangkatan dijadwalkan tanggal 25 April dan tiba kembali di Jakarta tanggal 11 Mei  2018. Pertandingan Final Coppa sendiri bila tidak ada perubahan akan digelar pada tanggal 9 Mei 2018. 

Pengajuan Visa Schengen, Salah Negara.

Tiket pesawat sudah ditangan dan saatnya melewati rintangan yang pertama, apalagi kalau bukan pengajuan visa schengen. Banyaknya blog dan artikel yang berseliweran di internet yang membahas penolakan visa schengen hingga susahnya dapat visa schengen cukup bikin nyali ciut dan menghilangkan harapan. Tapi tekad sudah bulat dan hasrat sudah ke ubun – ubun, nothing no lose lah.

Mulanya Saya mengajukan visa schengen lewat VFS Global Italia yang ada di Kuningan City. Dokumen sudah disiapkan dan janji sudah dibuat. Tiba di Loket VFS, dokumen kemudian diperiksa oleh petugas VFS. Tidak berapa lama petugas tersebut menyarankan untuk visa Saya diajukan melalui Perancis saja dan tidak bisa diajukan via Italia. Loh kenapa ? Penjelasan pihak VFS menyatakan kalau dari ittenary yang dibuat, Saya Masuk ke Eropa melalui Perancis dan tinggal lebih lama di Perancis jadi harus melakukan pengajuan visa lewat negara Perancis, meskipun tujuan utama Saya ke Italia dan sudah melampirkan tiket pertandingan sepakbola di Roma Italia.

Illustrsi VFS Spain, Source : Google

Ittenary yang Saya buat memang ada 2 model, yang pertama ittennary sebenarnya dan yang kedua Ittenary buat pengajuan visa. Pada Ittenary yang buat pengajuan visa, Saya memang hanya menginformasikan ke 3 negara yaitu Perancis, Jerman dan Italia dengan masa tinggal paling lama di Perancis. Perhitungan jumlah hari Saya meleset karena ternyata lebih lama tinggal di Paris ketimbang 2 negara lainnya.  Hal ini baru Saya sadari pada saat akan ke VFS Global, tapi tetap coba – coba. Barangkali bisa diterima.

Kenapa Saya buat 2 ?. karena untuk pengajuan visa schengen Italia mensyaratkan juga dokumen transportasi antara negara. Misal dari Perancis ke Italia naik apa ? bus atau kereta ? menginap dimana ?. Kalau Saya lampirkan Ittenary asli 6 negara, Saya harus membeli tiket perjalanan ke 6 Negara dan risiko kerugian makin besar kalau visa ditolak. 

TLS Contact – Visa Schengen Perancis

Berbekal informasi dari VFS Global, akhirnya Saya mulai kembali dari awal. Buat Janji pengajuan visa, kali ini ke TLS Contact France yang berada di Menara Anugrah, Kuningan. Setelah menunggu hampir 2 minggu, ditanggal yang telah ditetapkan Saya bertemu dengan pihak TLS Contact untuk menyerahkan dokumen. Saya tiba di lokasi setengah jam lebih awal dari jadwal appointment jam 10 pagi, jaga – jaga kalau terjebak macet di seputaran Kuningan. Saat sampai di lokasi, sudah cukup banyak orang yang datang, paling banyak tentu saja berasal dari agen – agen perjalanan atau travel.

Seperti standar pengamanan pada umumnya, saat masuk ke dalam harus melewati x-ray dan pemeriksaan barang bawaan. Setelah itu diarahkan untuk menyimpan handphone dan tas di loker yang sudah disediakan. Kunci loker bisa diperoleh di loket pengambilan paspor yang berada persis di depan loker. Sebagai informasi, pengunjung dilarang membawa handphone saat masuk ke dalam ruangan kantor TLS Contact. Setelah menyimpan handphone dan barang bawaan di loker, Saya kemudian menuju gate dan disana sudah ada petugas yang meminta print konfirmasi kedatangan yang diperoleh dari email pada saat membuat perjanjian sebelumnya. Barcode di scan, lantas Saya pun masuk ke dalam. 

TLS Contact France

Penyerahan Dokumen dan Biometrik

Masuk ke ruang tunggu, terlihat ada deretan counter di depan. Sisi kiri untuk pengajuan visa Perancis sedangkan sisi kanan untuk pengajuan visa Swiss. Saya pun duduk di ruang tunggu menantikan nama Saya dipanggil. Kita bisa pantau nama kita di urutan ke berapa dari monitor yang ada dibagian atas counter. 

Tiba nama saya dipanggil, semua dokumen diperiksa serta diurutkan ulang oleh pihak TLS Contact. Setelah itu, Saya diberi sebuah tas berisi dokumen yang tadi telah diperiksa dan diberi segel untuk kemudian diarahkan melakukan pembayaran ke Kasir. Setelah dari Kasir dilanjutkan dengan pengambilan rekam biometrik, yaitu pengambilan data sidik jari dan foto diri. 

Selesai semua tahapan tersebut, Kita membawa 2 buah kertas yang harus dibawa kembali pada saat pengambilan paspor nanti. Waktu proses visa dari TLS Contact kurang lebih 1 – 2 minggu kalender dan inilah waktu tunggu dimana tidur tak nyenyak makan tak enak. Detik berlalu, waktu berganti, yang Saya lakukan adalah periksa apakah ada email dari sang kekasih (TLS Contact). 3 hari, 4 hari, 7 hari , 10 hari.. hmmm kok belum ada panggilan, perasaan makin gak enak dan sudah pasrah. 

The Days

Jum’at, 13 April 2018 pagi hari, email yang ditunggu pun datang menginformasikan kalau paspor Saya sudah bisa diambil di TLS Contact. Seakan tidak mau menanti dalam ketidakpastian lebih lama lagi Saya pun bergegas berangkat ke TLS Contact. Untuk proses pengambilan paspor tidak memerlukan janji, cukup datang di jam operasional kerja yang telah ditentukan. Setibanya di TLS Saya langsung menuju loket pengambilan Paspor. Setelah menyerahkan syarat dokumen pengambilan paspor berupa bukti dokumen saat pengajuan visa, Fotocopy KTP dan KTP Asli, finally Saya pun memperoleh sebuah amplop putih bersegel.

Harap – harap cemas dan panas dingin mulai terasa, gemetar membuka amplop yang didalamnya ada 2 buah dokumen, satu kwintansi pembayaran dari kedutaan Perancis dan satu lagi adalah paspor. Saya buka lembaran paspor dan taraaa…. Alhamdulillah ada foto Saya tertera di Visa Perancis, Visa Saya disetujui. Ada perasaan haru dan senang luar biasa. 1 kaki Saya sudah berada di Eropa dan sekarang menunggu detik-detik keberangkatan di tanggal 25 April nanti.  Juventuss… I’m Coming. 

Leave a reply